Logo Bloomberg Technoz

Menurutnya, saat ini penambang masih berpatokan pada data Badan Pusat Statistik (BPS).

BPS mencatat fenomena kekeringan akibat El Niño yang terasa kuat sejak Agustus mulai mentransmisikan dampaknya berupa penurunan curah hujan hingga 50%—90% di berbagai wilayah.

Hal ini berdampak langsung pada merosotnya debit air permukaan sungai secara drastis.

Khusus di wilayah Kalimantan, dampak penurunan debit air terasa sangat krusial karena melumpuhkan alur transportasi sungai vital yang mengalami penyusutan muka air secara drastis.

Hendra juga menjelaskan penyusutan debit air di Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam memaksa para pengelola kapal tongkang menurunkan kapasitas angkut demi menghindari risiko kapal kandas di alur sungai yang semakin dangkal.

Penyesuaian volume muatan dari kapasitas normal tersebut secara langsung memperpanjang durasi bolak-balik kapal dan memicu antrean panjang armada pengangkut di sepanjang jalur perairan.

“Akibat kemacetan jalur distribusi perairan tersebut, penumpukan stok batu bara [stockpile] di areal sekitar tambang berpotensi membesar,” katanya.

Adapun, kondisi penumpukan yang berkepanjangan berisiko meningkatkan biaya operasional logistik perusahaan tambang karena durasi penyimpanan komoditas membengkak di area pelabuhan muat.

Sebelumnya, Asosiasi Pertambangan batu bara Indonesia (APBI) telah mengonfirmasi bahwa surutnya Sungai Mahakam telah menghambat pengiriman batu bara, bahkan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan.

Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menyatakan hingga kini asosiasinya masih belum dapat mengestimasi volume ekspor batu bara yang pengirimannya terhambat akibat surutnya Sungai Mahakam.

Meskipun begitu, dia menyatakan bahwa penurunan debit air di Sungai Mahakam membatasi draft tongkang sehingga muatan tidak dapat dimaksimalkan.

“Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kelancaran pemenuhan pasokan batu bara dan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan,” kata Gita saat dihubungi, Selasa (8/9/2026).

“Untuk dampaknya terhadap volume ekspor, saat ini kami belum dapat memperkirakan secara pasti berapa volume ekspor yang terdampak akibat surutnya Sungai Mahakam,” tegas Gita.

Gita juga menegaskan bahwa fenomena yang terjadi di Kalimantan tersebut perlu mendapat perhatian karena wilayah tersebut merupakan salah satu pusat produksi dan ekspor batu bara nasional.

Surutnya sungai di Kalimantan yang digunakan sebagai jalur angkutan tongkang batu bara tidak hanya terjadi di Sungai Barito, tetapi juga di Sungai Mahakam dan Kapuas.

Sungai terpanjang di Kalimantan Timur itu turut terimbas fenomena El Niño sehingga muatan batu bara yang diangkut tongkang di wilayah tersebut terpaksa dibatasi.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda Mursidi menyatakan telah mengeluarkan instruksi agar seluruh perusahaan dan pemilik pelabuhan membatasi muatan batu bara di tongkang menjadi sekitar 5.500—6.000 ton.

Mursidi menjelaskan, dalam kondisi normal, tongkang pengangkut batu bara dapat mengangkut hingga 7.000 ton batu bara.

Namun, saat ini kondisi tersebut dapat membahayakan pelayaran karena debit air mengalami penyusutan.

“Kami juga memberikan imbauan dan instruksi kepada semua perusahaan, termasuk pemilik pelabuhan, untuk melakukan pemuatan di bawah batas normal,” kata Mursidi, dikutip dari saluran YouTube Tribun Kaltim, Jumat (4/9/2026).

Sementara itu, Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya membenarkan bahwa sejumlah tongkang yang melalui Sungai Mahakam mengalami kesulitan saat berlayar ke hulu meskipun muatannya telah dikurangi.

Ditegaskan pula bahwa penurunan kapasitas angkutan membuat biaya logistik pengangkutan batu bara meningkat.

“Beberapa tongkang masih mengalami kesulitan saat berlayar ke hulu meskipun muatannya telah dikurangi. Kelompok industri tersebut mencatat bahwa penurunan kapasitas angkut per perjalanan akan membutuhkan lebih banyak perjalanan dan meningkatkan biaya logistik,” tulis SMM dalam risetnya.

(smr/wdh)

No more pages