Purbaya juga memastikan proses restrukturisasi kewajiban Whoosh selama 80 tahun telah selesai diterimanya. Namun, dia mengatakan masih akan melakukan penataan lebih lanjut terhadap skema tersebut.
Di samping itu, ia menyatakan belum bersedia memberikan penjelasan lebih jauh mengenai detail restrukturisasi tersebut. Lantaran kata dia dokumen terkait skema itu belum resmi diterimanya sehingga belum dapat mewakili PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) untuk berbicara mengenai detail kewajibannya.
"Saya terima beres udah seperti itu. Nanti saya rapikan lagi ke depan. [Tapi] konsernya berasal dari China segala macem akan saya lihat. Ini kan belum resmi ke saya. Jadi saya belum bisa mewakili KCIC [untuk] bicara dengan pihak China," pungkasnya.
Sebelumnya, Purbaya bahkan telah mengungkapkan pemerintah berencana memperluas jaringan kereta cepat hingga Jawa Timur usai pengambilalihan pengelolaan Whoosh dari Danantara kepada pihaknya.
"Nanti kita tarik ke Jawa Timur [Whoosh]. Kan jadi punya saya kan, punya SMV [Special Mission Vehicle] itu kan kereta cepatnya, kita akan tarik ke Jawa Timur, saya udah bicara dengan Menteri Keuangan China dan siapa yang berwenang di sana, sepertinya mereka tertarik," ungkap Purbaya di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Meski demikian, Purbaya masih menggodok pengambilalihan restrukturisasi utang kereta cepat melalui SMV ini. Bahkan salah satu opsi yang dipertimbangkan yakni melibatkan lembaga di bawah Kemenkeu yakni INA.
"Hal yang jelas kita siapkan terus, tanggal 15 [september] InsyaAllah, mudah-mudahan kita bisa serah terima kan dari Danantara ke kami [kemenkeu]," tuturnya.
(lav)





























