Logo Bloomberg Technoz

Adapun hingga semester I 2026, BTN mencatat pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar 11,2% secara tahunan menjadi Rp418 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan kredit non-housing dan akuisisi portofolio kredit pensiunan dari SMBC Indonesia.

Kredit non-housing BTN tumbuh sekitar 46% secara tahunan hingga Juni 2026. Porsinya terhadap total kredit dan pembiayaan telah mencapai 20,4%, meningkat sejalan dengan strategi perseroan untuk meningkatkan porsi kredit non-housing menjadi 30% dalam lima tahun ke depan.

Kontribusi terbesar kredit non-housing berasal dari segmen korporasi yang mencapai 59% dari total non-housing. Pertumbuhan terutama berasal dari sektor perdagangan besar dan eceran, real estate, serta transportasi.

Sementara dari sisi kredit konsumer, pertumbuhan didukung penyelesaian akuisisi tahap pertama portofolio kredit pensiunan SMBC Indonesia dengan nilai transaksi Rp12,6 triliun.

Meski kredit tumbuh 11,2%, BTN tidak mengubah target pertumbuhan kredit 2026 di kisaran 8%-10%. Manajemen menyebut pertumbuhan di atas target tersebut terutama berasal dari dampak akuisisi portofolio SMBC.

"Kami tidak revisi. Ini masih sama dengan RBB awal. Tapi memang realisasinya melebihi dari rencana, terutama sekali adanya akuisisi portofolio SMBC," ujar Nixon.

Nixon mengatakan perseroan akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit agar pertumbuhan kembali sesuai dengan target awal. Bahkan, apabila pertumbuhan kredit berada di atas kisaran tersebut, perseroan memperkirakan hanya mencapai sekitar 10,1%-10,2%.

Selektivitas penyaluran kredit juga dilakukan pada segmen KPR non-subsidi seiring penerapan manajemen risiko yang lebih prudent dan perbaikan proses loan origination.

Di sisi pendanaan, BTN mencatat dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,6% secara tahunan menjadi Rp433 triliun pada Juni 2026. Perseroan juga mencatat kenaikan dana murah sebesar Rp12 triliun atau 9,1% secara tahunan, sementara dana berbiaya mahal turun Rp3 triliun.

Namun, cost of deposit BTN meningkat menjadi 3,01% pada Juni 2026, naik 3 basis poin dibandingkan Mei. Kenaikan tersebut terjadi di tengah BI Rate yang berada di level 5,75%.

Dari sisi kualitas aset, rasio non-performing loan (NPL) gross BTN turun menjadi 2,99% pada Juni 2026, dibandingkan 3,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara cost of credit tercatat 0,7% pada semester I-2026.

Untuk tahun ini, BTN mempertahankan guidance pertumbuhan kredit sebesar 8%-10%, pertumbuhan DPK 7%-9%, cost of credit 1%-1,2%, dan NPL gross di bawah 3%.

Dengan demikian, perkembangan NIM pada paruh kedua tahun ini akan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan seiring mulai masuknya kontribusi pendapatan bunga dari portofolio kredit pensiunan yang diakuisisi dari SMBC Indonesia.

(dhf)

No more pages