Harga emas akhirnya bangkit usai jatuh tiga hari beruntun. Selama tiga hari tersebut, harga terpangkas hampir 3%.
Usai koreksi yang lumayan tersebut, emas sepertinya kembali menarik di mata investor. Aksi ‘serok’ di bawah membuat harga emas naik.
Posisi dip buying ini mampu mengatrol harga emas meski ada sentimen yang membebani. Harga emas masih bisa naik meski imbal hasil (yield) obligasi juga bergerak ke utara.
Kemarin, yield surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun naik 5 basis poin (bps) ke 4,844%. Meski cuma naik tipis, tetapi ini adalah posisi tertinggi sejak Oktober 2023 atau nyaris tiga tahun terakhir.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat instrumen lain menawarkan keuntungan yang lebih tinggi.
Kemudian, harga minyak dunia juga melejit akibat tensi di Timur Tengah yang kembali meninggi. Kemarin, harga minyak jenis brent melompat 4,23% ke US$ 102,08/barel.
Kenaikan harga energi berpotensi mengerek inflasi lebih tinggi. Ini akan membuat bank sentral di berbagai negara perlu merespons dengan pengetatan kebijakan moneter, melalui kenaikan suku bunga.
Malam ini waktu Indonesia, Bank Sentral Uni Eropa (ECB) akan mengumumkan suku bunga acuan. Pasar memperkirakan suku bunga naik dari 2,25% ke 2,5%.
Pekan depan, Bank Sentral AS (Federal Reserve) juga akan mengumumkan suku bunga acuan. Investor bertaruh bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan ke 3,75-4%, kemungkinannya sekitar 60%.
Sebagai non-yielding asset, kenaikan suku bunga global tentu bukan kabar baik bagi emas.
“Emas tidak begitu merespons kenaikan yield dan harga minyak akibat aksi short covering. Kami belum melihat ada isu baru,” kata Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank, seperti dikutip dari Bloomberg News.
(aji)































