Meskipun dampak ekonominya sangat dirasakan oleh para mitra pengusaha, HPMPI belum dapat merilis angka pasti mengenai total nominal kerugian finansial secara nasional karena asosiasi masih menunggu penyelesaian proses audit keuangan resmi dari seluruh anggotanya.
Namun, Steven menegaskan penurunan volume penjualan hingga sebesar 75% tersebut telah menjadi bukti tidak terbantahkan mengenai adanya krisis kelayakan usaha yang sedang melanda para pengelola Pertashop di lapangan.
Lebih lanjut, Steven menekankan persoalan yang dihadapi para pengusaha saat ini bukan lagi sekadar penurunan tingkat keuntungan, melainkan ancaman nyata terhadap keberlanjutan bisnis mereka.
“Ini terjadi karena pendapatan dari penjualan BBM tidak lagi cukup untuk menutup biaya operasional tetap [fixed costs] harian, seperti gaji operator, tagihan listrik, biaya pemeliharaan fasilitas, hingga pengurusan perizinan usaha,” jelasnya.
Terkait dengan data keberadaan tempat usaha tersebut, Steven memaparkan meskipun data resmi mencatat keberadaan sebanyak 6.700 unit Pertashop yang terdaftar di seluruh wilayah Indonesia, angka statistik tersebut sebenarnya sudah tidak lagi mencerminkan kondisi operasional yang nyata di lapangan.
Dia membeberkan kenyataan bahwa jaringan Pertashop yang masih mampu berproduksi secara sehat justru terus mengalami penyusutan jumlah secara signifikan ketimbang mengalami pertumbuhan atau perluasan jaringan usaha.
“Jumlahnya sulit bertambah, tetapi bagi para pengusaha di berbagai daerah, banyak pengelola Pertashop yang terpaksa mengambil langkah penyelamatan seperti memangkas jam operasional hingga menghentikan kegiatan usaha sementara waktu,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Steven menyampaikan peringatan keras agar pihak pemerintah serta PT Pertamina (Persero) tidak hanya berpatokan pada kebanggaan atas kepemilikan 6.700 titik lokasi Pertashop yang tercatat di atas kertas semata.
Dia sangat berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah-langkah penanganan yang nyata dan konkret guna menyelamatkan iklim usaha tersebut sebelum seluruh pengusaha lokal yang menjadi mitra Pertashop di lapangan gulung tikar satu per satu.
Sebelumnya, Steven mengungkapkan penjualan Pertamax di gerai Pertashop mengalami penurunan, imbas makin lebarnya disparitas harga dengan Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite.
Walhasil, Steven berharap Pertashop dapat menjual Pertalite dengan harga khusus atau tidak serupa dengan harga yang ditawarkan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
Dia memandang langkah tersebut dapat menjadi solusi turunnya penjualan Pertamax di Pertashop, sebab sejumlah gerai Pertashop saat ini terancam tutup.
“Maka, yang terjadi adalah disparitas itu menekan kelayakan usaha. Ada selisihnya harga, kemudian permintaan mulai bergeser dari produk nonsubsidi menjadi ke produk subsidi. Volume penjualan menurun, biaya per liter juga akan naik, dan juga outlet akan terancam tutup,” kata Steven dalam RDP di Komisi XII DPR, Selasa (8/9/2026).
“Hal hal lainnya adalah kami mengusulkan apabila memungkinkan kami dapat menjual harga BBM Pertalite dengan harga khusus, karena ini dapat menjadi salah satu solusi penghematan APBN,” tegasnya.
Dia menilai disparitas harga antara Pertalite dan Pertamax membuat masyarakat lebih memilih membeli BBM bersubsidi.
Bahkan, selisih harga tersebut memberikan ruang bagi pengecer untuk menjual BBM bersubsidi secara tidak resmi.
Steven juga berharap pengecer tidak resmi tersebut dapat ditindak, sebab menjual BBM bersubsidi lebih tinggi dari harga yang ditetapkan dan tidak memiliki izin atau ilegal.
“Ketika outlet resmi melemah, ruang bagi penjualan informal atau tidak resmi atau ilegal itu membesar, sebab ada gap harga. Gap harga antara Rp 10.000 ke Rp 15.000-something atau Rp 16.000-something, gitu,” ungkapnya.
Dia menambahkan Pertashop mendapatkan margin keuntungan sekitar Rp850 dari setiap liter Pertamax yang dijual.
Adapun, pada periode penyesuaian 1 September, harga BBM RON 98 atau Pertamax Turbo ditetapkan naik Rp1.300/liter dari Agustus menjadi Rp19.600/liter.
Selain Pertamax Turbo, seluruh BBM jenis solar nonsubsidi atau Dex Series turut mengalami kenaikan harga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Dexlite saat ini dibanderol Rp23.700/liter atau naik Rp4.000/liter dari bulan lalu, sedangkan Pertamina Dex Rp25.200/liter atau naik Rp4.050 dari Agustus.
Bensin nonsubsidi RON 92 atau Pertamax tidak mengalami penyesuaian harga pada 1 September 2026, alias tetap Rp15.950/liter.
Di sisi lain, bensin ramah lingkungan Pertamax Green 95 baru mengalami penyesuaian harga pada 2 September 2026 menjadi Rp19.150/liter alias naik Rp2.550 dari harga sehari sebelumnya di level Rp16.600/liter.
(smr/wdh)































