Logo Bloomberg Technoz

Lebih dari 85 persen perusahaan yang disurvei menyatakan mereka mengharapkan karyawan mampu bekerja berdampingan dengan AI tools dalam menjalankan pekerjaan masing-masing.

Perubahan ini bukan berarti AI akan menggantikan seluruh pekerjaan manusia. Justru, kemampuan menggunakan AI secara efektif menjadi salah satu pembeda antara kandidat yang memiliki kompetensi serupa.

Di Indonesia, perkembangan tersebut juga mulai terlihat melalui sejumlah lowongan pekerjaan. Bidang digital marketing, content, dan creative semakin sering mencantumkan familiaritas terhadap AI tools sebagai kemampuan tambahan yang diinginkan.

  1. AI Prompting

AI Prompting menjadi salah satu skill dasar yang dapat diterapkan dalam berbagai pekerjaan. Kemampuan ini berkaitan dengan cara menyusun instruksi kepada AI seperti ChatGPT, Claude, atau Gemini agar menghasilkan output sesuai kebutuhan.

Pengguna yang hanya memberikan pertanyaan sederhana biasanya memperoleh jawaban yang masih umum. Dengan memberikan konteks, tujuan, format, batasan, dan contoh yang jelas, hasil dari AI dapat menjadi lebih relevan.

Pemula dapat mulai mempelajarinya dengan beberapa cara:

  • Berlatih menggunakan ChatGPT atau Claude untuk kebutuhan sehari-hari.
  • Mempelajari role-setting, few-shot prompting, dan teknik prompting lainnya.
  • Membandingkan hasil dari beberapa struktur prompt.
  • Menggunakan Learn Prompting sebagai sumber pembelajaran.
  • Mempraktikkan prompting menggunakan kasus nyata dari bidang pekerjaan yang diminati.

Skill ini dapat diterapkan pada berbagai posisi, termasuk content writer, copywriter, digital marketer, social media specialist, HR, dan business development.

  1. AI-Assisted Content Creation

AI juga semakin banyak digunakan dalam proses produksi konten. Teknologi ini dapat membantu pekerjaan mulai dari mencari ide, melakukan riset, membuat outline, menyusun draft, hingga melakukan editing.

Namun, kemampuan menggunakan AI untuk menghasilkan konten saja tidak cukup. Pekerja tetap perlu mampu menyunting hasilnya agar sesuai dengan karakter brand, kebutuhan audiens, serta standar kualitas perusahaan.

Cara belajar dari nol dapat dilakukan melalui:

  • Menggunakan ChatGPT atau Claude untuk menyusun outline dan mengembangkan ide.
  • Mencoba Canva AI untuk kebutuhan visual.
  • Mengeksplorasi Midjourney dalam pembuatan konsep gambar.
  • Mempelajari Runway atau Pictory untuk produksi video.
  • Membuat konten secara bergantian dengan dan tanpa bantuan AI untuk mengetahui kelebihan masing-masing metode.

Kemampuan ini relevan bagi content writer, copywriter, social media specialist, UGC creator, dan digital marketer.

  1. AI untuk Digital Marketing dan Analitik

Dalam dunia pemasaran digital, AI digunakan untuk membantu mengoptimalkan kampanye, menganalisis data, membuat prediksi, hingga menemukan insight dari data dalam jumlah besar.

Platform seperti Google Ads, Meta Ads, dan TikTok Ads telah menggunakan AI dalam berbagai bagian sistemnya. Teknologi tersebut dapat membantu proses penentuan audiens, optimasi bid, hingga rekomendasi kreatif.

Digital marketer perlu memahami cara memanfaatkan fitur tersebut secara strategis, bukan sekadar menyerahkan seluruh keputusan kepada sistem otomatis.

Beberapa kemampuan yang dapat dipelajari antara lain:

  • Smart Bidding dan Performance Max pada Google Ads.
  • Advantage+ Campaign pada Meta Ads.
  • Pemanfaatan AI untuk menganalisis laporan marketing.
  • Penggunaan AI untuk menemukan tren atau anomali dalam data.
  • Tools seperti Jasper AI dan Copy.ai untuk membuat variasi ad copy.

Skill tersebut dapat menjadi nilai tambah bagi digital marketing specialist, performance marketer, growth marketer, dan social media analyst.

  1. AI untuk Desain dan Kreativitas

Artificial Intelligence juga mulai mengubah workflow di bidang desain. AI dapat digunakan untuk mempercepat eksplorasi konsep, menghasilkan variasi visual, dan membantu proses produksi.

Meski demikian, kemampuan desain manusia tetap dibutuhkan. Desainer perlu menggabungkan hasil AI dengan proses editing agar visual yang dihasilkan tetap memiliki karakter dan sesuai dengan identitas brand.

Pemula dapat mencoba beberapa tools berikut:

  • Canva AI untuk membuat dan mengembangkan konsep desain.
  • Adobe Firefly bagi pengguna Photoshop dan Illustrator.
  • Midjourney untuk eksplorasi konsep visual yang lebih kreatif.
  • Teknik kombinasi AI generation dengan editing manual.

Skill ini relevan untuk graphic designer, UI/UX designer, social media specialist, dan content creator.

AI Mulai Memengaruhi HR, Sales, dan Business Development

  1. AI untuk HR dan Rekrutmen

Bidang HR menjadi salah satu area yang dapat memanfaatkan AI untuk mengurangi pekerjaan administratif. Teknologi ini dapat membantu pembuatan job description, penyusunan pertanyaan screening, analisis CV, hingga pengelolaan data karyawan.

Dalam proses rekrutmen, AI dapat membantu mengotomatisasi sejumlah tahap awal, seperti screening kandidat dan penjadwalan wawancara. Dengan begitu, tim HR dapat lebih fokus pada aspek yang membutuhkan penilaian manusia.

Skill yang dapat dipelajari meliputi:

  • Menggunakan AI untuk membuat job description.
  • Menyusun screening questions.
  • Membuat email follow-up kandidat.
  • Mempelajari fitur AI pada platform HRIS.
  • Menggunakan AI untuk membantu membaca dan menganalisis data HR.

Kemampuan tersebut relevan untuk HR specialist, talent acquisition, HRBP, dan people operations.

  1. AI untuk Business Development dan Sales

Business development dan sales juga semakin membutuhkan pendekatan berbasis data. AI dapat membantu tim melakukan riset pasar, menemukan prospek, membuat komunikasi yang lebih personal, dan menganalisis pipeline.

Penggunaan AI dapat dimulai dari pekerjaan sederhana hingga proses strategis. Beberapa contohnya adalah:

  • Membuat cold email yang dipersonalisasi.
  • Menyusun pitch deck.
  • Menganalisis brief klien.
  • Melakukan riset kompetitor.
  • Menggunakan AI sebagai partner brainstorming dalam strategi pitching.

Tools seperti Apollo.io dan HubSpot Sales Hub juga dapat dipelajari untuk memahami pemanfaatan AI dalam pengelolaan prospek dan proses sales.

Skill ini relevan bagi business development executive, sales executive, account manager, dan growth marketer.

  1. AI Literacy dan Critical Thinking

Di tengah semakin luasnya penggunaan AI, kemampuan memahami keterbatasan teknologi menjadi semakin penting. AI tidak selalu menghasilkan informasi yang benar dan dapat memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan meski faktanya keliru.

Kesalahan tersebut dapat muncul dalam bentuk hallucination, bias dari data pelatihan, maupun ketidakmampuan AI memahami konteks tertentu secara tepat.

Karena itu, perusahaan membutuhkan pekerja yang mampu menggunakan AI sekaligus mengevaluasi hasilnya sebelum digunakan.

Pemula dapat membangun kemampuan tersebut dengan:

  • Memahami konsep dasar cara kerja AI.Memeriksa fakta dan data melalui sumber primer.
  • Mengenali klaim spesifik yang tidak memiliki sumber terverifikasi.
  • Membandingkan informasi AI dengan sumber terpercaya.
  • Mempelajari Google AI Essentials untuk memahami penggunaan AI secara bertanggung jawab.

AI Literacy menjadi skill yang dapat digunakan hampir di semua posisi yang memanfaatkan AI dalam pekerjaan sehari-hari.

Roadmap Belajar Skill AI untuk Pemula

Tujuh skill tersebut tidak harus dipelajari sekaligus. Pemula dapat mengikuti tahapan belajar secara bertahap sesuai kebutuhan karier.

  1. Bulan pertama: fokus pada fondasi

Mulai dengan AI Prompting dan AI Literacy. Gunakan AI untuk membantu tugas sederhana sekaligus membiasakan diri memeriksa kembali informasi yang dihasilkan.

  1. Bulan kedua hingga ketiga: pilih spesialisasi

Setelah memahami dasar AI, pilih satu atau dua skill yang paling sesuai dengan bidang karier. Pembelajaran sebaiknya dilengkapi dengan proyek nyata yang dapat dimasukkan ke dalam portofolio.

  1. Bulan keempat dan seterusnya: integrasikan ke workflow

Gunakan AI secara konsisten dalam pekerjaan sehari-hari. Pada tahap ini, pekerja dapat mulai membuat template, sistem, dan workflow pribadi yang dapat digunakan berulang.

Apakah Harus Bisa Coding?

Kemampuan coding bukan menjadi syarat utama untuk menguasai sebagian besar skill AI tersebut. AI Prompting, content creation, marketing, desain, HR, serta business development dapat dipelajari menggunakan tools yang tersedia untuk pengguna non-developer.

Coding dan machine learning lebih dibutuhkan bagi mereka yang ingin masuk ke posisi teknis seperti ML Engineer, Data Scientist, atau AI Developer.

Artinya, peluang untuk mempelajari AI terbuka bagi pekerja dari berbagai jurusan. Yang menjadi semakin penting adalah kemampuan memahami teknologi, mengetahui kapan AI dapat membantu, serta mampu mengevaluasi hasilnya secara kritis.

Di tengah perubahan dunia kerja pada 2026, Artificial Intelligence bukan lagi sekadar kemampuan tambahan. Bagi banyak profesi, kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaan mulai menjadi bagian dari kompetensi yang perlu dipertimbangkan sejak awal membangun karier.

(seo)

No more pages