Logo Bloomberg Technoz

Rimini Street Sebut AI Bukan Awal Transformasi Digital


(Dok. Rimini Street)
(Dok. Rimini Street)

Bloomberg Technoz, JakartaPerlombaan mengadopsi artificial intelligence (AI) telah mengubah prioritas investasi perusahaan. Jika sebelumnya transformasi digital identik dengan proyek modernisasi infrastruktur dan penggantian sistem, kini organisasi dituntut menemukan cara agar inovasi dapat berjalan tanpa membebani anggaran teknologi. Menurut Rimini Street, kunci keberhasilan transformasi bukan terletak pada seberapa cepat perusahaan mengadopsi AI, melainkan pada kemampuannya memaksimalkan investasi teknologi yang sudah dimiliki untuk menciptakan nilai bisnis yang berkelanjutan.

Banyak organisasi juga mulai mengevaluasi bagaimana memanfaatkan investasi pada sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang telah menjadi tulang punggung operasional bisnis selama bertahun-tahun sebagai fondasi untuk mengadopsi AI dan teknologi baru. Serta, banyak organisasi masih mengukur transformasi digital berdasarkan besarnya proyek teknologi yang dijalankan.

Rimini Street menilai banyak organisasi masih memandang AI sebagai titik awal transformasi digital sekaligus menganggap modernisasi harus dimulai dengan mengganti sistem ERP yang telah digunakan selama bertahun-tahun. Padahal, implementasi AI akan memberikan hasil yang lebih optimal apabila didahului dengan perbaikan proses bisnis, optimalisasi sistem ERP yang sudah ada, dan otomatisasi operasional. Bisnis perlu menerapkan pendekatan bertahap dalam mengadopsi teknologi. Langkah pertama adalah memperbaiki proses bisnis yang dinilai belum efisien, kemudian mengotomatisasi proses yang sudah berjalan dengan baik, sebelum akhirnya mengintegrasikan AI untuk menghasilkan peningkatan produktivitas yang lebih besar.

Di tengah meningkatnya investasi AI, perusahaan tidak selalu perlu memperbesar anggaran teknologi untuk mempercepat transformasi digital atau melakukan penggantian sistem ERP secara menyeluruh. Rimini Street percaya bahwa perusahaan dapat menciptakan ruang investasi baru dengan mengoptimalkan biaya operasional TI dan memaksimalkan nilai dari sistem yang telah dimiliki.

“Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengalihkan sumber daya menuju proyek-proyek strategis seperti AI, otomatisasi, dan analisis data untuk menciptakan nilai bisnis baru. Hasilnya, transformasi digital dapat berjalan lebih cepat sekaligus memberikan pengembalian investasi yang lebih terukur,” ujar Seth Ravin, CEO, Rimini Street.

Indonesia Semakin Fokus pada Transformasi yang Berdampak

Menurut Seth, perusahaan-perusahaan di Indonesia kini mulai mengadopsi pendekatan transformasi digital yang lebih terukur. Fokusnya tidak lagi hanya pada implementasi teknologi terbaru, tetapi pada bagaimana teknologi mampu meningkatkan produktivitas, mempercepat proses bisnis, dan menghasilkan nilai nyata bagi organisasi.

Perubahan pendekatan ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan untuk mengadopsi AI di tengah kondisi ekonomi yang masih dinamis. Alih-alih melakukan investasi teknologi secara besar-besaran, banyak organisasi kini lebih selektif dalam menentukan prioritas, dengan mengoptimalkan aset teknologi yang telah dimiliki sebelum mengalokasikan anggaran untuk inisiatif baru.

Seth berpendapat bahwa tren tersebut sejalan dengan perkembangan di berbagai negara Asia Tenggara, di mana perusahaan semakin menekankan efisiensi operasional sebagai fondasi transformasi digital. Dengan mengurangi biaya operasional TI dan memaksimalkan nilai dari sistem yang sudah ada, organisasi dapat mengalihkan sumber daya untuk mendanai proyek-proyek strategis seperti AI, otomatisasi, dan modernisasi proses bisnis tanpa harus meningkatkan belanja TI secara signifikan.

Ia menambahkan pendekatan tersebut telah mulai diterapkan oleh berbagai organisasi di Indonesia yang berupaya mengoptimalkan biaya pengelolaan sistem enterprise sebelum mempercepat investasi pada AI. Dengan mengurangi beban operasional TI dan memaksimalkan nilai dari sistem yang telah dimiliki, organisasi dapat mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk inisiatif strategis seperti AI dan otomatisasi. Menurutnya, strategi tersebut tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga membantu menyederhanakan proses bisnis, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan produktivitas.

Bagi Rimini Street, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu harus dimulai dengan mengganti sistem yang sudah ada. Sebaliknya, organisasi dapat memperoleh dampak yang lebih besar dengan terlebih dahulu mengoptimalkan proses bisnis, memanfaatkan investasi teknologi yang telah dimiliki, kemudian secara bertahap mengintegrasikan AI untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Di Indonesia, pendekatan tersebut semakin relevan seiring pemerintah mendorong percepatan transformasi digital, AI, serta peningkatan produktivitas industri nasional.

AI sebagai Katalisator Pertumbuhan Bisnis

Di tengah percepatan adopsi AI di berbagai industri, Seth melihat teknologi ini sebagai peluang besar bagi perusahaan untuk meningkatkan daya saing dan menciptakan pertumbuhan besar yang berkelanjutan. Namun faktanya, keberhasilan AI tidak diukur dari seberapa cepat teknologi tersebut diimplementasikan, melainkan dari kemampuannya menghasilkan nilai nyata bagi bisnis.

Dalam pendekatan tersebut, AI diposisikan sebagai lapisan inovasi yang melengkapi sistem ERP, bukan menggantikannya. Dengan memanfaatkan data dan proses yang telah berjalan di dalam ERP, AI dapat menghasilkan insight yang lebih cepat, mengotomatisasi pekerjaan yang repetitif, serta membantu organisasi mengambil keputusan bisnis yang lebih akurat.

Ketika diterapkan pada proses bisnis yang telah dioptimalkan dan ter-digitalisasi dengan baik, AI mampu membantu organisasi meningkatkan produktivitas, mempercepat pengambilan keputusan, mengurangi pekerjaan yang bersifat repetitif, serta membuka peluang baru untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan mendorong inovasi. Dengan demikian, perusahaan dapat mengalokasikan lebih banyak sumber daya pada aktivitas yang bersifat strategis dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar.

Seth menilai perusahaan yang mengintegrasikan optimalisasi proses, otomatisasi, dan AI secara bertahap akan lebih siap menghadapi dinamika bisnis yang terus berkembang. Pendekatan ini memungkinkan organisasi mengadopsi inovasi dengan lebih cepat, sekaligus memastikan setiap investasi teknologi memberikan dampak yang terukur terhadap efisiensi, produktivitas, dan pertumbuhan bisnis.

Ke depan, AI diperkirakan akan menjadi salah satu pendorong utama transformasi di berbagai sektor. Karena itu, organisasi yang mulai membangun fondasi digital yang kuat sejak sekarang akan berada pada posisi yang lebih baik untuk memanfaatkan peluang baru, mempercepat inovasi, dan memperkuat daya saing di era ekonomi digital.

"AI memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Namun, nilai terbesar akan diperoleh ketika teknologi tersebut dibangun di atas proses yang efisien dan strategi transformasi yang terarah," tutup Seth.

Perusahaan yang unggul bukanlah organisasi yang paling cepat membeli teknologi baru, tetapi mereka yang paling disiplin mengalokasikan investasi. Di era AI, daya saing tidak lagi ditentukan oleh besarnya anggaran TI, melainkan oleh kemampuan perusahaan mengubah setiap investasi menjadi produktivitas, efisiensi, dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.