Logo Bloomberg Technoz

AI Makin Rakus Listrik, Ini Alasan Data Center Butuh Energi Besar

Referensi
08 September 2026 13:35

Ilustrasi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence). (Bloomberg)
Ilustrasi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence). (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - AI kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang mengajukan pertanyaan kepada chatbot, membuat gambar secara otomatis, atau menggunakan penerjemah berbasis kecerdasan buatan, proses tersebut terlihat sederhana dari sisi pengguna. Namun, di balik respons yang muncul dalam hitungan detik, terdapat infrastruktur komputasi yang bekerja dengan kapasitas sangat besar.

Perkembangan Artificial Intelligence atau AI, terutama Generative AI dan Large Language Models (LLM), membuat kebutuhan terhadap infrastruktur digital mengalami perubahan signifikan. Server yang sebelumnya cukup untuk menjalankan aplikasi web dan menyimpan database kini tidak lagi memadai untuk menangani beban komputasi model AI modern.

AI membutuhkan kombinasi sumber daya yang jauh lebih besar, mulai dari komputasi, listrik, jaringan, penyimpanan hingga sistem pendinginan. Kondisi tersebut kemudian mendorong perkembangan Data Center Skala Besar atau Hyperscale Data Center sebagai salah satu fondasi penting dalam ekosistem AI.


Setiap permintaan yang dikirimkan pengguna ke layanan AI harus diproses melalui komputer berkinerja tinggi yang umumnya berada di data center. Semakin kompleks model yang digunakan, semakin besar pula kapasitas komputasi yang diperlukan untuk menghasilkan respons.

Berbeda dengan aplikasi tradisional yang menjalankan instruksi berdasarkan logika yang telah diprogram, AI harus melakukan perhitungan matematis dalam jumlah sangat besar. Proses tersebut digunakan untuk memahami konteks, memprediksi kata, mengenali pola visual, hingga menghasilkan jawaban berdasarkan permintaan pengguna.