"Perbaikan cadangan devisa tersebut kemungkinan belum akan mengubah sentimen pasar secara material, mengingat masih adanya ketidakpastian terkait suku bunga global, arus modal, dan kekuatan dolar AS," sebut Samuel Sekuritas dalam laporannya, Senin (7/9/2026).
Memang dari sisi ketahanan eksternal, posisi US$146,5 miliar tetap memberi bantalan yang cukup kuat. Cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Di sisi lain, lemahnya penerimaan devisa juga bisa jadi perhatian. Berdasarkan estimasi Direktorat Jenderal Pajak, penerimaan pajak dan jasa pada Agustus tercatat turun 2% secara bulanan. Jika tren ini berlanjut, sementara kebutuhan pembayaran utang luar negeri meningkat, tekanan terhadap neraca eksternal dapat kembali menguat.
Samuel Sekuritas memperkirakan perbaikan yang berkelanjutan terhadap cadangan devisa akan bergantung pada penguatan arus masuk portofilio, penerimaan devisa dari ekspor, serta kondisi keuangan global yang lebih kondusif.
"Secara keseluruhan, kami melihat risiko sektor eksternal masih relatif tinggi, dengan akumulasi cadangan devisa kemungkinan akan berlangsung secara bertahan dan tidak merata," papar Samuel Sekuritas dalam laporannya.
Ke depan, penguatan cadangan devisa yang lebih terstruktur sejatinya terletak pada kemampuan Indonesia untuk bisa menghasilkan devisa secara lebih organik. Misalnya, melalui ekspor, investasi, pariwisata, dan arus modal masuk yang berkelanjutan.
Jika cadangan devisa meningkat lantaran utang sementara tekanan terhadap rupiah masih membutuhkan intervensi BI, maka kualitas pertumbuhan cadangan devisa itu bisa terus dipertanyakan.
Sebab, di tengah ketidakpastian suku bunga global saat ini, serta kekuatan dolar AS, dan volatilitas arus modal, kualitas sumber devisa akan menjadi penentu utama seberapa kuat rupiah menghadapi tekanan eksternal ke depan.
Untuk diketahui, rupiah bergerak defensif di rentang Rp17.640-17.700/US$ seiring laju pergerakan harga minyak yang bertahan tinggi di US$96/barel. Harga minyak telah menjadi penekan rupiah sepanjang tahun ini, lantaran dampak kenaikan harganya terhadap risiko imported inflation dan kebutuhan dolar AS untuk membiayai belanja minyak.
(dsp/aji)






























