Partikel abu umumnya memiliki sisi yang tajam dan bersifat abrasif. USGS mencatat abu vulkanik dapat bersifat keras, abrasif, sedikit korosif, dan tidak larut dalam air.
Jika abu terhisap ke mesin jet, partikel tersebut dapat mengikis komponen dan, ketika mencapai bagian bersuhu sangat tinggi, dapat melunak atau meleleh sebelum membentuk endapan menyerupai kaca di dalam turbin.
Bahaya serupa juga mengintai kendaraan darat. Mobil dan sepeda motor yang terus beroperasi di wilayah terdampak hujan abu berisiko mengalami penyumbatan filter udara, abrasi pada komponen bergerak, hingga gangguan pada sistem mesin.
Filter Udara hingga Mesin Kendaraan Rentan Rusak
Laporan USGS juga mengungkap, abu vulkanik dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai bagian kendaraan.
Dalam kajiannya mengenai dampak abu vulkanik terhadap kendaraan, USGS menyebut paparan abu dapat mempercepat keausan komponen kendaraan dan mesin. Abu juga dapat mengganggu sistem ventilasi, filter, serta berbagai komponen kendaraan lainnya.
Abu yang menumpuk dapat menyumbat filter dan menghambat pasokan udara ke mesin. Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut dapat menyebabkan masalah pada mesin hingga meningkatkan risiko panas berlebih.
Partikel yang lolos dari sistem penyaringan juga dapat masuk lebih jauh ke dalam mesin dan meningkatkan abrasi pada komponen internal. Selain mesin, abu vulkanik dapat mengganggu transmisi, sistem pengereman, bearing, hingga komponen kelistrikan kendaraan.
USGS selannjutnya memperingatkan, penggunaan wiper pada kaca yang tertutup abu dapat menyebabkan goresan. Partikel vulkanik yang terjebak antara wiper dan kaca memiliki sifat abrasif sehingga dapat bekerja seperti material pengamplas.
Mesin Pesawat Hadapi Risiko Abrasi hingga Abu Meleleh
Ancaman hujan abu menjadi lebih serius bagi pesawat terbang karena mesin jet menghisap udara dalam jumlah besar. Ketika pesawat memasuki wilayah yang mengandung abu vulkanik, partikel tersebut dapat ikut masuk ke dalam mesin.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications menunjukkan, abu vulkanik dapat merusak mesin melalui dua mekanisme utama, yakni abrasi dan pelelehan.
Laporan tersebut menjelaskan, partikel yang masuk ke mesin dapat mengikis komponen seperti bagian kompresor. Risiko lainnya muncul ketika abu mencapai bagian mesin dengan temperatur sangat tinggi.
Temperatur di dalam mesin jet dapat mencapai sekitar 1.200 hingga 2.000 derajat Celsius. Dalam kondisi tersebut, sejumlah material dalam abu vulkanik dapat melunak atau meleleh.
Material kemudian dapat menempel pada komponen turbin dan membentuk endapan menyerupai kaca. Endapan tersebut berpotensi menyumbat jalur pendinginan dan mengganggu aliran udara di dalam mesin.
Komposisi kimia abu menjadi faktor penting karena setiap abu vulkanik memiliki karakter pelelehan yang berbeda, sehingga, tingkat risiko terhadap mesin tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak abu yang masuk, tetapi oleh karakter mineral dan kaca vulkanik yang terkandung di dalamnya.
Sampel dari erupsi Gunung Merapi pada 2010 termasuk material yang digunakan dalam penelitian untuk mengkaji interaksi abu vulkanik dengan mesin turbin.
NASA dalam pengujiannya berjudul Volcanic Ash Engine Test Results juga menemukan, abu vulkanik dapat menyebabkan erosi pada komponen kompresor sekaligus membentuk endapan material seperti kaca pada bagian turbin mesin pesawat.
Endapan tersebut dapat mengganggu sistem pendinginan dan dalam kondisi tertentu menyebabkan hilangnya tenaga mesin.
Data USGS mengenai pertemuan pesawat dengan awan abu vulkanik sepanjang 1953 hingga 2009 mencatat 94 pertemuan yang telah dikonfirmasi.
Dari jumlah tersebut, 79 insiden menyebabkan berbagai tingkat kerusakan pada badan pesawat atau mesin. Dalam sembilan kasus, mesin pesawat mengalami penghentian saat penerbangan.
(mef/wep)


























