Jumlah titik panas kembali meningkat di Kalimantan setelah sempat menurun, mengutip Menteri Kehutanan. Kondisi ini menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintah dalam mengendalikan kebakaran. Pemerintah telah mengerahkan sedikitnya 6.000 personel di lapangan serta melakukan operasi pengeboman air dan modifikasi cuaca untuk memadamkan api dari udara.
Dampak El Niño juga merambat ke berbagai sektor. Kompleks nikel terbesar di Indonesia mungkin harus memangkas produksi hingga 40% karena kekeringan mengganggu pasokan air, sementara jalur perairan yang semakin dangkal menghambat pengiriman minyak kelapa sawit.
Hampir 40% dari produksi minyak kelapa sawit Kalimantan yang mencapai sekitar 417.000 ton per bulan harus diangkut menggunakan truk, bukan tongkang, sejak pekan pertama Agustus. Kondisi tersebut meningkatkan biaya transportasi, kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), M. Hadi Sugeng Wahyudiono.
Kualitas udara juga memburuk di wilayah lain. Sarawak, Malaysia, mencatat tingkat polusi udara yang “berbahaya”, sementara otoritas Indonesia mengimbau warga di Kalimantan, tempat titik-titik panas terkonsentrasi, untuk waspada terhadap kemungkinan memburuknya kondisi.
(bbn)
































