Sungai Mahakam merupakan salah satu jalur nadi perdagangan batu bara paling penting di Borneo. Dengan lebih dari 200 tongkang yang melintas per harinya, aktivitas pengangkutan batu bara di sungai tersebut disebut-sebut memiliki nilai ekonomi sekitar Rp2,4 triliun per hari atau Rp864 triliun per tahun.
Sementara itu, di sungai Barito, terjadi penurunan kedalaman sungai yang dapat membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor.
Argus Media melaporkan sejumlah produsen menyatakan keadaan kahar atas pengiriman batu bara.
“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering,” tulis Argus, Rabu (2/9/2026).
Argus Media mencatat tambang batu bara di wilayah Kalimantan Tengah memproduksi batu bara kalori menengah hingga tinggi, dengan beberapa tambang memproduksi hingga 100.000 ton batu bara per bulan.
Sepanjang tahun lalu, sekitar 45,78 juta ton batu bara di produksi dari wilayah tersebut dan sekitar 29,54 juta ton di antaranya diekspor.
Berdasarkan penelusuran, berikut beberapa perusahaan tambang batu bara di Kalimantan yang memanfaatkan sungai Barito dan Mahakam untuk mengangkut hasil tambangnya:
Sungai Mahakam:
PT Harum Energy Tbk. (HRUM)
HRUM melakukan penambangan di berbagai lokasi di Kalimantan Timur. Truk mengangkut batu bara langsung dari tambang MSJ dan SBB dan menempuh jarak hingga 50 km ke fasilitas pengolahan batu bara, penimbunan, dan pemuatan tongkang di Separi, yang terletak di tepi sungai Mahakam.
Dalam situs resminya, ditegaskan hampir seluruh batu bara yang dijual oleh Harum Energy dimuat ke kapal-kapal pelanggan di laut lepas.
Di Pelabuhan Separi, batu bara dimuat ke tongkang dengan kapasitas masing-masing sekitar 8.000 ton dan diangkut ke tempat penambatan transshipment di laut lepas di Muara Berau.
PT Bayan Resources Tbk. (BYAN)
BYAN memiliki tambang Teguh Sinar Abadi (TSA) dan Firman Ketaun Perkasa (FKP) di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Tambang tersebut memproduksi sekitar 3 juta ton batu bara bituminus per tahun.
Dari lokasi penambangan, batu bara diangkut sejauh 20—25 kilometer ke fasilitas pemuatan tongkang yang dimiliki dan dioperasikan oleh Bayan Group di sungai Mahakam.
Fasilitas pemuatan tongkang ini memiliki kapasitas penghancuran sebesar 1.000 ton per jam, kapasitas tumpukan total sebesar 400.000 ton, dan kapasitas pemuatan tongkang sebesar 2.000 ton per jam. Fasilitas tersebut menangani tongkang dengan kapasitas sekitar 7.500 ton.
Sakari Resources Limited (SAR)
SAR memiliki tambang Jembayan yang mencakup area seluas lebih dari 12.000 hektar di Kalimantan Timur. Produksi tambang Jembayan mencapai hampir 10 juta ton per tahun.
Tambang tersebut memiliki pelabuhan tongkang sendiri, yang dapat dicapai melalui jalan sepanjang 26 kilometer. Kemudian, batu bara tersebut diangkut melalui tongkang menyusuri sungai Mahakam untuk dimuat di laut.
Sungai Barito:
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI)
Dalam laporan tahunan AADI 2025, dijelaskan batu bara yang telah dikeluarkan dari tambang ditampung sementara di run of mine.
Di Kalimantan Selatan, sebagian besar batu bara dari ROM diangkut ke fasilitas pengolahan dan pemuatan tongkang batu bara di terminal khusus batu bara Kelanis di sungai Barito .
PT Adaro Logistics juga memiliki anak usaha yang menjalankan bisnis pengangkutan batu bara di sungai Barito melalui PT Maritim Barito Perkasa (MBP).
MBP mengoperasikan transportasi laut atau sungai dengan mengirimkan batu bara dari pelabuhan muat di Kelanis, Muara Tuhup dan Teluk Timbau di Kalimantan Tengah, dan Gandus serta Lematang di Sumatera Selatan, ke titik alih muat kapal di Taboneo, Kalimantan Selatan dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Per Juni 2024, armada MBP terdiri dari 70 tongkang, 72 kapal tunda, dan tiga kapal berbaling-baling (SPB) dengan kapasitas angkut batu bara lebih dari 771.000 ton.
MBP juga memiliki tujuh fasilitas alih muat yang terdiri dari empat derek apung dan tiga floating transfer unit (FTU) dengan kapasitas 222.000 ton per hari.
Per Juni 2024, MBP mengangkut sebanyak 34,6 juta ton batu bara grup perseroan dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) baik menggunakan tongkang sendiri dan tongkang pihak ketiga.
PT Borneo Prima Coal Indonesia (BPCI)
BPCI memiliki tambang batu bara kokas Muara Temeh yang terletak di sepanjang sungai Barito, Kalimantan Tengah. BPCI memegang izin usaha pertambangan (IUP) untuk konsesi seluas 4.798 hektare (ha).
Logistik ekspor batubara dilakukan melalui jalan tanah sepanjang 27 km yang telah dibangun dan beroperasi, menuju dermaga yang beroperasi di sungai Barito hingga pelabuhan Taboneo di Banjarmasin.
(azr/wdh)






























