Militer Iran pada Kamis mengatakan telah menargetkan pangkalan AS di Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA), menurut kantor berita pemerintah Islamic Republic News Agency.
Kuwait mengatakan pihaknya merespons ancaman rudal dan drone, sementara UEA belum mengumumkan adanya insiden.
Harga minyak kemudian melemah setelah Arab Saudi mempertahankan harga minyak mentah andalannya untuk bulan depan, yang mengindikasikan bahwa kondisi pasokan di pasar tidak seketat yang diperkirakan sebagian investor.
“Kembali berkobarnya permusuhan antara AS dan Iran terus menunjukkan rapuhnya setiap kesepakatan yang tidak konkret maupun de-eskalasi jangka pendek,” kata Ryan McKay, senior commodity strategist di TD Securities.
“Iran tidak mundur dari upayanya mengendalikan Selat Hormuz, yang pada akhirnya membuat kemungkinan eskalasi tetap tinggi ketika AS memfasilitasi pelayaran kapal melalui jalur Oman.”
Risiko meluasnya konflik juga meningkat. Israel mengisyaratkan bahwa mereka siap kembali bertempur jika diperlukan dan bahwa serangan Iran terhadap negara Yahudi tersebut akan membebaskan Israel dari segala pembatasan yang ada saat ini.
“Kami akan menyerang seluruh infrastruktur nasional, militer, dan sipil — termasuk infrastruktur energi — dan mengembalikan Iran jauh ke zaman batu,” kata Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump, ketika ditanya berapa lama pengeboman AS yang kembali digelar dapat berlangsung, mengatakan, “Saya rasa tidak akan terlalu lama,” sembari menambahkan bahwa “kami siap melakukannya lagi.”
Serangan baru AS tersebut terjadi setelah beberapa pekan relatif tenang, dengan Iran membalas dengan menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika di berbagai wilayah Timur Tengah.
Para trader kembali memusatkan perhatian pada arus minyak dari kawasan Teluk Persia, karena perbedaan penilaian mengenai situasi di lapangan membuat skala lalu lintas kapal sulit dipastikan. Kapal tanker masih melintasi titik sempit tersebut dengan transponder dimatikan.
Harga minyak tidak banyak bereaksi terhadap pernyataan Trump bahwa sekitar 18 juta barel minyak per hari masih mengalir melalui Selat Hormuz, hanya sedikit di bawah level sebelum perang, menurut unggahan presiden AS tersebut di media sosial. Trump kemudian menambahkan bahwa hingga 40 kapal keluar dari Hormuz setiap malam.
Namun, Kpler, Vortexa, dan Tankertrackers.com — perusahaan yang memantau arus minyak melalui jalur laut — memperkirakan tingkat pengiriman rata-rata hanya sebagian kecil dari angka tersebut.
Hingga 27 Agustus, para trader memperkirakan volumenya berada di kisaran 6 juta hingga 8 juta barel per hari. Sejak saat itu, setidaknya dua supertanker minyak telah menjadi sasaran serangan.
Meskipun harga minyak mentah masih tertahan oleh volume minyak yang masih dapat “diperas keluar” dari Selat Hormuz, pasokan bahan bakar jauh lebih ketat. Serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia semakin memperburuk kondisi tersebut.
Dampak yang memburuk itu tercermin dari harga diesel di AS, yang melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022. Rata-rata harga diesel nasional di tingkat pompa di AS naik menjadi US$5,783 per galon pada Rabu, melampaui rekor tertinggi selama masa perang yang sebelumnya tercatat pada April, menurut American Automobile Association (AAA).
“Ini adalah akumulasi dari seluruh kekhawatiran,” kata Arne Lohmann Rasmussen, kepala analis di Global Risk Management di Kopenhagen.
“Pasar semakin khawatir mengenai konfrontasi militer, dalam situasi ketika Selat Hormuz tetap tertutup lebih lama. Perang ini dengan mudah dapat menyebar seperti yang terjadi pada Maret ke seluruh kawasan Timur Tengah.”
(bbn)





























