Ia menambahkan bahwa integrasi pengelolaan lahan sawit tersebut ditargetkan dapat memberikan kontribusi pasokan awal biodiesel ke Pertamina dalam waktu dekat.
"Dalam waktu satu tahun ke depan, kami juga akan menghasilkan 600 ribu ton biodiesel untuk diserahkan kepada Pertamina," ungkapnya.
Adapun, selain fokus pada komoditas kelapa sawit untuk pasokan biodiesel, pemerintah memperluas penugasan Agrinas ke sektor bioetanol melalui budi daya tanaman non-sawit. Penugasan ini diharapkan dapat memperkuat diversifikasi bahan bakar nabati nasional.
"Lalu kami juga ditugaskan oleh pemerintah untuk menanam 300 ribu hektare tanaman singkong atau sorgum, antara dua itu," jelas Gani.
Gani menegaskan potensi hasil panen dari lahan tambahan tersebut sangat signifikan untuk mendongkrak produksi etanol nasional yang akan disalurkan melalui kerja sama dengan Pertamina.
"Dengan membuka 300 ribu hektare singkong atau sorgum, kita bisa menambah sekitar 1,2 juta kiloliter etanol," terangnya.
Ia meyakini bahwa sinergi lintas lembaga menjadi kunci utama bagi keberhasilan program bioenergi nasional ini.
"Kami sudah sepakat berkolaborasi demi Merah Putih untuk menghasilkan etanol maupun biodiesel dari kebun kami," katanya menambahkan.
Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memastikan pasokan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) untuk program mandatori campuran solar dan bahan bakar nabati berbasis sawit 50% atau biodiesel B50 aman hingga akhir 2026.
Ketua Umum Gapki Eddy Martono menegaskan produksi CPO nasional tahun ini mencapai 53 juta ton. Jumlah tersebut dinilai sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan program B50 hingga akhir tahun ini sebanyak 1,74 juta ton.
"Implementasi B50 pada Juli sampai dengan Desember butuh bahan baku CPO sekitar 1,74 juta ton. Tahun ini produksi CPO diperkirakan 53 juta ton, seharusnya tidak ada masalah," ujarnya saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).
Edy menambahkan, menurut perhitungan Gapki, kebutuhan bahan baku CPO untuk implementasi selama satu tahun penuh pada 2027 diperkirakan mencapai sekitar 3,5 juta ton.
Meski begitu, di tengah kondisi produksi sawit yang saat ini sedang stagnan, fokus utama yang harus ditingkatkan selanjutnya adalah mendongkrak jumlah produksi melalui peningkatan produktivitas lahan.
“Kondisi produksi stagnan, maka yang harus ditingkatkan adalah peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas. Ini bisa dicapai dengan mempercepat program Peremajaan Sawit Rakyat [PSR], karena kendalanya memang di sini,” tambahnya.
Di sisi lain, Pemerintah menargetkan implementasi bahan bakar nabati B60 (biodiesel 60%) dapat berjalan mulai 2027.
Program ini direncanakan mengombinasikan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan hydrotreated vegetable oil (HVO) dengan potensi porsi bauran HVO sebesar 10%.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyatakan pemerintah saat ini tengah mengonsolidasikan ketersediaan pasokan bahan baku di sektor hulu untuk mendukung target tersebut.
"Sudah disampaikan tahun ini kita sudah mengimplementasikan B50, dan Bapak Presiden waktu itu beliau sudah menyampaikan tahun depan sudah diimplementasikan B60. Berarti ini ketersediaan untuk sumber bahan bakunya kita juga harus konsolidasikan bagaimana di hulu ketersediaan CPO-nya mencukupi," ungkap Yuliot dalam agenda IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9/2026).
Untuk mendukung B60, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listyani Dewi menjelaskan opsi penggunaan HVO sedang dalam tahap pengkajian intensif oleh para ahli.
"Para peneliti juga mulai mengkaji potensi B60—apakah formulanya B50 ditambah 10% HVO," jelas Eniya dalam kesempatan yang sama.
Dia menyebutkan HVO sudah diproduksi oleh Pertamina, meski begitu harga bahan bakar nabati berbasis hydrotreated tersebut masih relatif mahal, yakni berkisar 1,5 hingga 2 kali lipat dari harga fatty acid methyl ester (FAME).
Selain persoalan formula dan biaya, pemerintah menegaskan bahwa fokus utama saat ini masih tertuju pada pengawasan serta penuntasan distribusi B50 sebelum melangkah ke uji coba B60 secara penuh.
"Belum, saat ini fokus utama kami masih pada pengawasan B50," tegas Eniya.
(smr/ros)






























