Pasar memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga paling lambat November, dengan kenaikan pada September dinilai lebih mungkin terjadi daripada tidak, berdasarkan data swap yang dihimpun Bloomberg. Trader juga memperkirakan sekitar 80% peluang bank sentral kembali menaikkan suku bunga pada kuartal I tahun depan, naik dari 62% sebelum data tersebut dirilis.
Hasil tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi sejauh ini masih bertahan terhadap upaya RBA untuk memperlambat perekonomian dan menekan inflasi yang terus berada pada level tinggi. Laporan PDB menjadi salah satu data utama yang akan dicermati RBA sebelum pertemuan 28-29 September untuk menentukan apakah kebijakan moneter perlu diperketat lebih lanjut guna mengembalikan keseimbangan ekonomi.
RBA bulan lalu mempertahankan suku bunga di level 4,35% untuk pertemuan kedua berturut-turut setelah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali antara Februari dan Mei.
Data PDB tersebut juga menambah tekanan terhadap obligasi Australia yang terseret aksi jual global di tengah kekhawatiran mengenai lonjakan belanja pemerintah, inflasi yang sulit turun, serta pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat akibat pesatnya pembangunan pusat data.
Imbal hasil obligasi Australia bertenor tiga tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter diperdagangkan di level tertinggi sejak Maret setelah data tersebut dirilis. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun berada di level yang belum terlihat sejak Juli 2011.
“Meski terdapat sejumlah dinamika kompleks dalam komposisi belanja rumah tangga, pasar hanya melihat hasil PDB yang lebih baik dari perkiraan, terutama secara tahunan, dan menganggapnya sebagai lampu hijau untuk kembali melakukan aksi jual,” kata Robert Thompson, kepala strategi ekonomi dan suku bunga di unit Royal Bank of Canada di Australia.
“Ini tampaknya sudah berlebihan,” tambahnya. “Namun, momentum—baik akibat aksi jual global yang kita alami belakangan ini maupun faktor Australia—terbukti sulit dilawan.”
Pekan lalu, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan mendorong sejumlah ekonom memperkirakan RBA akan kembali menaikkan suku bunga paling cepat pada September, sekaligus menghapus ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun. Perubahan tersebut terjadi setelah risalah pertemuan RBA pada Agustus menunjukkan sikap hawkish, ketika para pembuat kebijakan mengisyaratkan toleransi yang rendah terhadap kejutan kenaikan inflasi.
RBA menargetkan inflasi berada di titik tengah kisaran 2%-3%, level yang belum dicapai Australia selama sekitar lima tahun.
Data PDB tersebut mencakup sebagian besar periode konflik di Timur Tengah yang memicu guncangan energi global dan memperburuk tekanan inflasi di sejumlah negara. Perang AS-Iran baru-baru ini kembali meningkat setelah kedua pihak melanjutkan serangan.
“Ini merupakan hasil yang kuat di tengah kondisi internasional yang penuh tantangan,” kata Bendahara Australia Jim Chalmers dalam pernyataan setelah data dirilis. “Pertumbuhan tahunan Australia sama kuatnya atau lebih kuat dibandingkan seluruh negara maju utama—setara dengan Amerika Serikat dan jauh lebih kuat dibandingkan negara-negara lainnya.”
(bbn)
































