Stasiun televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan pada Senin bahwa sebuah menara air di lereng bukit menjadi satu-satunya bangunan yang masih berdiri di area inti Pelabuhan Gyirong. Bangunan, kendaraan, dan infrastruktur lainnya terkubur lumpur serta bongkahan batu sehingga menyulitkan operasi penyelamatan, menurut laporan tersebut.
“Ini bukan banjir biasa,” kata Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal dalam wawancara dengan The Kathmandu Post yang diterbitkan pada Selasa. “Ini adalah bencana dengan kecepatan seperti tornado — yang oleh banyak pihak secara tepat disebut sebagai ‘Tsunami Himalaya’. Skala bencana ini sepenuhnya berada di luar ingatan hidup masyarakat Nepal.”
Sebagai salah satu negara dengan perekonomian termiskin di Asia, Nepal menghadapi upaya rekonstruksi yang sangat berat ketika negara tersebut juga tertekan oleh kenaikan biaya bahan bakar akibat perang Iran, serta melemahnya sektor pariwisata dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Bencana ini semakin menambah tantangan yang dihadapi Perdana Menteri Nepal berusia 36 tahun, Balendra Shah, yang berkuasa awal tahun ini di tengah gelombang ketidakpuasan generasi Z.
Bencana tersebut juga merusak infrastruktur penting, termasuk sedikitnya 12 proyek pembangkit listrik tenaga air di distrik Nuwakot dan Rasuwa, menurut Independent Power Producers’ Association Nepal.
(bbn)






























