Logo Bloomberg Technoz

Perkenalannya dengan ekosistem kripto berkembang secara bertahap. Dengan modal awal sekitar Rp600.000, Filbert bertemu mentor anonim asal Bali melalui Discord pada 2020.

Keduanya terhubung karena sama-sama memiliki ketertarikan terhadap komputer dan teknologi. Dari interaksi tersebut, Filbert mulai memperluas pengetahuannya mengenai aset digital dan berbagai instrumen di dalamnya.

Pada 2022, ia mendalami Non-Fungible Token atau NFT. Setelah itu, perhatiannya beralih ke decentralized finance atau DeFi pada periode 2022 hingga 2023.

Filbert kemudian memilih trading sebagai fokus utama. Pada 2024 hingga 2025, ia memperdalam perdagangan memecoin sebelum kini berkonsentrasi pada trading margin dan memecoin melalui decentralized exchange atau DEX.

Ketika Tekanan Hidup Menjadi Modal Mental

(Dok. Instagram @kinggfilbert)

Perjalanan Filbert tidak hanya diwarnai dinamika pasar. Pada 2021, ia kehilangan ayahnya. Berasal dari keluarga broken home, peristiwa tersebut membuatnya menghadapi tanggung jawab yang lebih besar terhadap keluarganya.

Tekanan kembali datang pada akhir 2025 ketika keluarganya mengalami persoalan finansial. Situasi tersebut menjadi salah satu titik terendah yang harus dihadapi Filbert ketika dirinya masih berada pada usia muda.

Namun, tekanan tersebut justru mendorongnya meningkatkan kapasitas. Ia memilih memperdalam pengetahuan dan kemampuan, bukan sekadar berusaha bertahan menghadapi keadaan.

Sebelum menjadi juara Traders Royale, Filbert juga sempat mencoba berbagai jalur usaha. Pada 2023, ia membangun bisnis pakaian yang kemudian gagal akibat konflik dengan mitra.

Pada 2024, ia masuk ke industri asuransi dan bekerja sebagai community manager. Berbagai pengalaman tersebut dijalaninya sembari tetap mempelajari pasar keuangan.

Rangkaian pengalaman itu membentuk perspektif Filbert mengenai keberhasilan. Ia tidak melihat trading sebagai jalan cepat untuk mendapatkan keuntungan, melainkan aktivitas yang membutuhkan pemahaman, strategi, konsistensi, dan pengelolaan risiko.

Pandangan tersebut menjadi semakin relevan di tengah maraknya figur di media sosial yang menampilkan gaya hidup mewah sebagai gambaran kesuksesan seorang trader. Filbert justru memilih membawa cerita yang berbeda.

Ia tidak ingin menjual mimpi mengenai keuntungan instan. Sebaliknya, pengalaman menghadapi kegagalan dan tekanan menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan kepada generasi muda.

"Cerita saya justru lebih relate bagi kita semua. Dalam kondisi ekonomi seperti ini, saya ingin menunjukkan bahwa financial market bisa menjadi jalan keluar," kata Filbert.

Menurut Filbert, peluang di pasar keuangan perlu dihadapi dengan keseriusan. Pengetahuan dan kemampuan membaca risiko menjadi faktor penting agar seseorang tidak sekadar mengikuti tren.

Dari pemikiran tersebut lahir Underdogs Community. Komunitas ini dibangun sebagai ruang bagi trader muda untuk bertumbuh bersama dan memperoleh pengetahuan mengenai pasar secara lebih sehat.

Underdogs Community mengusung filosofi "Turn the Odds, Compound the Difference". Filosofi itu menekankan bagaimana peluang yang terlihat kecil dapat dikembangkan melalui strategi dan konsistensi.

(Dok. Instagram @kinggfilbert)

Pendekatan komunitas juga menempatkan asymmetric bet dan risk management sebagai bagian penting dalam aktivitas trading. Filbert menekankan pentingnya riset berbasis data dan informasi dibandingkan mengikuti keputusan orang lain.

"Kami membangun komunitas sehat. Alpha play jarang orang tahu karena riset berbasis data dan informasi, bukan ikut-ikutan," jelasnya.

Pendekatan tersebut membuat Filbert mulai dikenal di lingkungan komunitas kripto. Sejumlah KOL dan pencinta aset digital di Indonesia mulai menjadikannya salah satu rujukan untuk belajar dan berdiskusi mengenai pasar.

Kemenangan di Traders Royale 2026 kemudian menjadi titik penting dalam perjalanan tersebut. Filbert harus berhadapan secara langsung dengan 18 trader berpengalaman dalam kompetisi live trading.

Alih-alih tertekan oleh perbedaan pengalaman, Filbert mampu tampil kompetitif hingga keluar sebagai pemenang. Hasil tersebut mengubah posisi seorang underdog menjadi pusat perhatian di panggung IBW 2026.

Kemenangan itu juga membawa Filbert ke panggung yang lebih luas. Tidak lama setelah IBW 2026, ia bertolak ke Bali untuk menghadiri Coinfest Asia 2026.

Ajang tersebut mempertemukan pelaku industri blockchain dari berbagai negara. Kehadiran Filbert menunjukkan bahwa pengakuan terhadap kiprahnya mulai bergerak dari lingkup nasional menuju panggung regional.

Bagi Filbert, kemenangan di Traders Royale bukan sekadar trofi. Pencapaian tersebut menjadi pembuktian bahwa latar belakang dan posisi sebagai pendatang baru tidak selalu menentukan hasil akhir.

Perjalanannya justru menunjukkan bagaimana seorang anak muda dapat membangun kapasitas melalui proses panjang. Dari modal awal Rp600.000, kegagalan bisnis, kehilangan ayah, hingga tekanan ekonomi keluarga, seluruh pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju panggung kompetisi.

Kini, pada usia 19 tahun, Filbert Patrick dikenal sebagai trader muda Indonesia yang berfokus pada trading margin dan memecoin DEX. Ia juga menjadi pendiri Underdogs Community yang membawa gagasan pertumbuhan bersama bagi trader muda.

Namun, tantangan berikutnya adalah mempertahankan kredibilitas di tengah industri yang bergerak cepat. Bagi Filbert, konsistensi belajar dan disiplin terhadap risiko menjadi fondasi yang lebih penting dibandingkan sekadar mengejar keuntungan.

Kisah "King Filbert" pada akhirnya bukan hanya tentang seorang anak muda yang mengalahkan 18 trader dalam satu kompetisi. Lebih dari itu, kemenangan tersebut menjadi cerita tentang seorang underdog yang membangun jalannya sendiri ketika banyak orang belum percaya terhadap pilihannya.

Dari sosok yang sempat dianggap berbeda hingga berdiri di puncak Traders Royale 2026, Filbert membawa satu pesan kuat: posisi sebagai underdog tidak harus menjadi batas untuk menentukan seberapa jauh seseorang dapat melangkah.

(tim)

No more pages