Kemudian, besi dan baja naik 20,31%, dengan andil 1,89%, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya naik 22,52% dengan andil terhadap total nilai ekspor 1,46%.
Mengamati total ekspor nonmigas berdasarkan sektor, Industri pertanian, kehutanan dan perikanan berkontribusi US$570 juta. Sektor pertambahan dan lainnya US$3,10 miliar dan industri pengolahan US$21,76 miliar.
"Peningkatan ekspor nonmigas utamanya didorong oleh industri pengolahan yang naik 6,03% dengan andil kenaikan 5,01%," katanya.
Peningkatan pada sektor pengolahan terutama disebabkan peningkatan pada kimia dasar organik dan lainnya, alumunium, tembaga, besi dan baja, serta kimia dasar organik yang berasal dari pertanian.
Kinerja Ekspor Kumulatif Januari-Juli 2026
Sepanjang Januari hingga Juli 2026, total nilai ekspor mencapai US$167,03 miliar atau naik 4,43% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).
Kenaikan ini didorong oleh nilai ekspor nilai ekspor nonmigas yang naik 5,21% dengan nilai US$160,01 miliar. Di sisi lain, nilai ekspor migas tercatat senilai US$7,02 miliar atau turun 10,63%.
“Peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi pada nikel dan barang daripadanya, bahan bakar mineral, dan lemak dan minyak hewani/nabati,” ujar Ateng.
Berdasarkan sektornya, industri pengolahan ini menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor nonmigas sepanjang Januari hingga Juli 2026 dengan peningkatan ekspor 7,16%, dan memberi andil 5,73% terhadap total ekspor Indonesia.
Secara detail, dia menyebut bahwa ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar yaitu produk olahan nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, kimia dasar anorganik lainnya serta semi-alumunium, dan minyak kelapa sawit.
(lav)

























