Logo Bloomberg Technoz

Sekadar informasi, Antam menargetkan produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 yang disetujui Kementerian ESDM mencapai 18,1 juta ton, naik 12,7% dari produksi bijih pada 2025.

Untuk produksi emas, pada tahun ini perseroan menargetkan produksi logam mulia sejumlah 935 kilogram, naik sekitar 25,8% dibandingkan dengan realisasi produksi 2025 sebanyak 743 kilogram.

Sementara itu, untuk produksi bauksit, Antam menargetkan sebanyak 4,9 juta ton basah atau wet metric ton (wmt) pada 2026, naik 70% dibandingkan dengan realisasi produksi bijih bauksit pada 2025 sebanyak 2,8 juta ton.

Pada April, Antam mengungkapkan RKAB 2026 untuk tambang bauksit di PT Mega Citra Utama (MCU) masih belum mendapatkan restu Kementerian ESDM, sebab masih dalam proses revisi feasibility study (FS).

Produksi bijih nikel Antam sebanyak 18,1 juta ton tahun ini terbagi atas beberapa target produksi tambang nikel perseroan.

Pertama, produksi dari Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Kolaka pada tahun ini ditargetkan mencapai 2.954.610 wmt. Lalu, target produksi dari UBPN Konawe Utara ditargetkan sebanyak 3.441.994 wmt.

Selanjutnya, target produksi dari UBPN Maluku Utara ditargetkan 1.645.444 wmt. Lalu, target produksi bijih nikel dari PT Sumber Daya Arindo (SDA) mencapai 2.839.023 wmt.

Kemudian, target produksi bijih nikel Antam dari PT Nusa Karya Arindo (NKA) dicanangkan sebesar 4.000.000 wmt. Terakhir, target produksi bijih nikel dari PT Gag Nikel direncanakan sebesar 3.267.000 wmt.

Adapun, pengajuan RKAB 1 tahunan dilakukan paling cepat pada 1 Oktober tahun berjalan dan paling lambat pada 15 November setiap tahunnya.

Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Cara Penyusunan, Penyampaian, dan Persetujuan RKAB Serta Tata Cara Pelaporan Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Saat ini, sejumlah penambang juga masih menunggu hasil revisi RKAB 2026 yang diajukan pada 1—31 Juli 2026.

Kementerian ESDM mengklaim sudah mulai menyetujui sejumlah pengajuan revisi RKAB 2026 untuk komoditas batu bara dan nikel.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyatakan sudah terdapat sekitar belasan perusahaan nikel dan belasan perusahaan batu bara yang mendapat persetujuan revisi RKAB 2026.

Kendati begitu, Tri enggan menjelaskan jumlah tambahan kuota volume produksi yang disetujui untuk komoditas batu bara dan nikel.

“Ada, udah beberapa [yang disetujui pengajuan revisi RKAB]. Ada jumlahnya saya enggak ngitung. Mungkin sekitar segitu [sekitar belasan perusahaan masing-masing batu bara dan nikel],” kata Tri kepada awak media usai IIGCE 2026 di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (19/8/2026).

Adapun, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta ton.

(azr/wdh)

No more pages