Logo Bloomberg Technoz

Febri mengatakan pelemahan juga terjadi pada IKI industri yang berorientasi ekspor maupun pasar domestik, meski keduanya masih berada di zona ekspansi. Untuk industri berorientasi ekspor, salah satu tekanan berasal dari meningkatnya biaya logistik, baik untuk penjualan ekspor maupun pembelian bahan baku impor.

Sementara untuk pasar domestik, pelemahan salah satunya tercermin pada industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki yang menjadi satu-satunya subsektor yang mengalami kontraksi pada Agustus 2026. 

Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Sri Bimo Pratomo mengatakan kontraksi industri kulit dan alas kaki juga dipengaruhi hambatan jalur perdagangan dan kondisi geopolitik Amerika Serikat, yang merupakan salah satu tujuan ekspor terbesar alas kaki nasional.

Kondisi tersebut menyebabkan ketidakpastian terhadap pesanan luar negeri. Sementara dari sisi domestik, kontraksi terjadi karena permintaan dan produksi produk alas kaki menurun setelah musim masuk sekolah pada Juli berlalu. 

Meski demikian, Kemenperin melihat peluang pemulihan industri kulit dan alas kaki melalui momentum Lebaran serta implementasi IEU-CEPA.

Bimo mengatakan implementasi IEU-CEPA yang diharapkan berjalan pada 2027 menjadi peluang besar bagi industri kulit dan alas kaki untuk meningkatkan ekspor ke pasar Uni Eropa.

Menurut dia, kesepakatan tersebut berpotensi memberikan tarif ekspor 0% sehingga dapat meningkatkan peluang ekspor produk Indonesia ke Uni Eropa. Namun, industri tetap harus memenuhi berbagai standar yang berlaku di kawasan tersebut, terutama standar keberlanjutan. 

Di sisi lain, Kemenperin juga melihat kebijakan insentif pemerintah sebagai salah satu faktor yang dapat membantu meningkatkan permintaan industri. Febri mengatakan pelaku usaha masih mencermati berbagai perkembangan ekonomi dan kebijakan yang berpotensi meningkatkan demand.

Hal tersebut menjadi penting di tengah IKI Agustus 2026 yang tercatat 52,30, masih berada di zona ekspansi, tetapi turun 0,80 poin dibandingkan Juli yang sebesar 53,10.

Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis Kemenperin, sebanyak 22 subsektor masih mengalami ekspansi, sementara satu subsektor, yakni industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, mengalami kontraksi. Subsektor yang ekspansi mencakup 98,6% kontribusi terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada kuartal II 2026. 

Berdasarkan orientasi pasar, IKI ekspor pada Agustus tercatat 53,09, sedangkan IKI domestik sebesar 51,13. Keduanya masih ekspansif meski masing-masing mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

(ain)

No more pages