Berdasarkan dokumen Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat 14 segmen megathrust yang berhasil dipetakan dalam keseluruhan sistem regional. Pembagian kawasan tersebut terdiri dari 11 segmen berada di wilayah Indonesia dan 3 segmen berlokasi di Filipina.
Daryono memaparkan wilayah Indonesia yang berhadapan dengan sistem subduksi tersebut antara lain adalah pantai barat Sumatra, Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara dan Sulawesi Utara. Kawasan-kawasan ini berhadapan langsung dengan garis pertemuan lempeng.
"Secara geografis, wilayah yang berhadapan dengan sistem subduksi tersebut terutama meliputi pantai barat Sumatra, selatan Jawa, Bali-Nusa Tenggara, serta kawasan Sulawesi Utara. Selain itu, terdapat sistem subduksi di kawasan Banda dan Indonesia bagian timur yang memiliki karakter tektonik berbeda dan tetap menjadi sumber bahaya gempa," katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa zona megathrust bukan berarti seluruh wilayah tersebut akan mengalami gempa besar secara bersamaan. Penegasan ini penting agar masyarakat memahami perbedaan karakteristik di setiap jalur pergeseran lempeng.
Pasalnya, setiap segmen memiliki karakteristik, geometri, laju konvergensi, tingkat penguncian, dan sejarah kegempaan yang berbeda. Perbedaan faktor ini membuat waktu pelepasan energi pada tiap segmen tidak berlangsung serentak.
Daftar Segmen Jalur Megathrust dan Segmen Berpotensi Khusus
Segmen pertama adalah Megathrust Aceh-Andaman dengan potensi magnitudo maksimum M9,2. Disusul Megathrust Nias-Simeulue dengan potensi magnitudo maksimum M8,7, serta Megathrust Batu yang menyimpan potensi magnitudo maksimum M7,8.
Jalur Sumatra juga mencakup Megathrust Mentawai-Siberut dengan potensi magnitudo maksimum M8,9, Megathrust Mentawai-Pagai potensi magnitudo maksimum M8,9, serta Megathrust Enggano yang memuat potensi magnitudo maksimum M8,9.
Untuk wilayah selatan pulau utama, terdapat Megathrust Jawa potensi magnitudo maksimum M9,1, Megathrust Jawa bagian barat potensi magnitudo maksimum M8,9, serta Megathrust Jawa bagian timur potensi magnitudo maksimum M8,9.
Wilayah timur Indonesia meliputi Megathrust Sumba potensi magnitudo maksimum M8,9 dan Megathrust Sulawesi Utara potensi magnitudo maksimum M8,5. Jalur ini menyambung hingga ke wilayah perbatasan kawasan utara Nusantara.
Sementara tiga segmen regional luar mencakup Megathrust Palung Cotabato potensi magnitudo maksimum M8,3, Megathrust Filipina Selatan potensi magnitudo maksimum M8,2, serta Megathrust Filipina Tengah potensi magnitudo maksimum M8,1.
Dari keseluruhan segmen yang ada, segmen Mentawai-Siberut, Sumba dan Selat Sunda kerap menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) karena terdapat indikasi seismic gap, bagian sistem subduksi yang dalam catatan sejarah mengalami relatif sedikit gempa besar dalam periode tertentu.
"Semua segmen ini bisa berpotensi gempa besar. Namun demikian, ini ada yang kita curigai, ada beberapa segmen yang kemungkinan sudah lama tidak terjadi gempa-gempa besar. Jadi contohnya ini segmen Mentawe-Siberut, itu yang berkali-kali kita sampaikan sudah lama tidak terjadi gempa," jelas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto kepada CNNIndonesia.com, Senin (24/8).
"Terus segmen yang di Selat Sunda ini, sebenarnya masuk ke segmen Jawa bagian Barat ya. Ini juga sudah lama tidak terjadi gempa sama segmen di Sumba. Ini juga sudah lama tidak terjadi gempa-gempa magnitudo besar. Jadi, tiga segmen ini yang kita terus monitor saat ini," tambahnya.
Sebagai catatan, BMKG menegaskan kondisi tersebut merupakan potensi jangka panjang, bukan prediksi gempa yang akan segera terjadi. Informasi ini dipublikasikan untuk meningkatkan kesiapsiagaan mitigasi, bukan untuk menimbulkan kecemasan.
Lebih lanjut, Wijayanto menyoroti dua dampak yang dapat dipicu oleh megathrust. Pertama, tsunami yang dapat terjadi ketika gempa berada di bawah laut dan menyebabkan perubahan atau pergeseran dasar laut.
Energi dari gempa disebut dapat memicu gelombang tsunami. Misalnya, apabila gempa besar terjadi di segmen Mentawai-Sibereut.
"Kalau rilisnya di segmen Mentawai-Cibereut, tentunya nanti daerah Sumatera Barat, daerah Sumatera Utara, daerah Bengkulu itu akan terdampak, dan mungkin bisa juga nanti berdampak ke negara-negara sekitar Indian Ocean," jelasnya.
Wijayanto mengatakan BMKG telah memiliki sistem peringatan dini tsunami yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat sekitar terkait apa saja yang perlu dilakukan jika terjadi bencana.
Selain tsunami, katanya, megathrust juga dapat menyebabkan guncangan yang kuat saat terjadi gempa. Guncangan ini berpotensi menimbulkan kerusakan infrastruktur maupun bangunan, bahkan tanah longsor hingga kebakaran.
(seo)


























