Di saat yang sama, nilai tukar rupiah menguat 0,12% ke Rp17.705/US$ siang ini, sejalan dengan penguatan di pasar offshore ke Rp17.751/US$.
Pergerakan rupiah yang masih positif mengindikasikan bahwa persepsi investor terhadap demonstrasi yang berujung kericuhan tadi malam, cenderung netral. Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, mengatakan persepsi pelaku pasar saat ini menjadi sinyal positif yang meredam potensi keluarnya arus modal asing seperti tahun lalu.
Namun, ia menyebut perbedaan kondisi tahun ini dengan tahun lalu adalah arah kebijakan suku bunga. Tahun ini, investor menghadapi kemungkinan masuknya Bank Indonesia ke fase siklus kenaikan bunga (rate hike cycle). Sementara tahun lalu suku bunga relatif landai.
"Kami berpendapat prospek kenaikan BI Rate pada kuartal keempat 2026, akan lebih berdampak terhadap pergerakan pasar mengingat potensi pelebaran defisit neraca berjalan, maupun efek pass through inflasi dari produsen ke konsumen," kata Lionel
Untuk hari ini, Lionel memperkirakan yield surat utang tenor 10 tahun bergerak relatif stabil di kisaran 7,05% hingga 7,1%.
Dari eksternal, yield US Treasury mampu menahan penurunannya, dengan tenor 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga bertahan di 4,23%. Investor memperkirakan Gubernur The Fed Kevin Warsh akan menyampaikan nada yang hawkish dalam acara simposium tahunan di Jackson Hole (Wyoming).
Sementara, pergerakan dolar AS sedikit terapresiasi di mana dengan indeks dolar yang berada di 99,13 naik tipis 0,02% pada 12:07 WIB.
Pergerakan dolar AS yang masih relatif stabil masih memberi ruang bagi mata uang Asia. Won Korea Selatan menguat 0,39%, dolar Taiwan 0,33%, rupiah 0,11%, ringgit Malaysia menguat 0,07% dan dolar Singapura 0,03%.
Sebaliknya, peso Filipina melanjutkan pelemahannya hingga 0,56%, disusul baht Thailand 0,35%, dan yen Jepang 0,09%, yuan offshore 0,03%, rupee India 0,02%, dan dolar Hong Kong 0,01%.
(riset/aji)


























