“Indonesia kan bangsa yang besar. Bapak Presiden sampaikan ke saya, kita tuh tidak pernah ada wakilnya yang duduk sebagai pimpinan lembaga tingkat dunia yang levelnya PBB atau United Nations. Jadi begitu beliau melihat ini ada opportunity, ya saya ditugaskan di sana,” jelasnya.
Selain itu, Budi mengatakan sejumlah negara anggota WHO juga melihat perlunya reformasi di organisasi-organisasi internasional. Menurut dia, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo memiliki potensi untuk mendorong perubahan tersebut.
“Banyak negara-negara anggota juga yang melihat bahwa harus ada reform di organisasi-organisasi tingkat dunia seperti ini, dan mereka melihat Indonesia, ya mungkin di bawah pimpinan Bapak Presiden Prabowo itu memiliki potensi itu,” katanya.
Masuk Bursa Dirjen WHO
Dalam laman WHO yang diperbarui pada 22 Agustus 2026, Budi masuk dalam daftar calon yang diusulkan untuk posisi Dirjen WHO bersama tiga kandidat lainnya. Mereka yakni Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar, Hanan Balkhy yang diusulkan Arab Saudi, serta Hans Kluge, Direktur Regional WHO untuk Eropa, yang diusulkan Belgia.
Kabar mengenai pencalonan Budi sebelumnya mencuat setelah media internasional Devex melaporkan wawancara dengan Budi di sela-sela World Health Assembly ke-79 di Jenewa.
Dalam wawancara tersebut, Budi disebut mengaku telah membicarakan peluang pencalonannya sebagai Dirjen WHO dengan Presiden Prabowo Subianto.
Meski demikian, Budi menegaskan pencalonan Dirjen WHO bukan keputusan individu. Menurutnya, kandidat harus secara resmi diajukan oleh negara.
“Saya akan mengonfirmasi setelah negara mengirimkan surat resmi, karena menjadi Direktur Jenderal WHO bukan pengajuan individu, melainkan harus diajukan oleh negara,” kata Budi, seperti dilaporkan Devex.
(dec)































