Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang merespons beberapa jam setelah perintah Trump, mengatakan nama Ontario memiliki akar dari masyarakat adat dan sudah ada sebelum konfederasi Kanada maupun Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.
“Kita tahu bahwa Amerika sedang berubah. Hubungan perdagangan mereka, kebijakan luar negeri mereka, monumen nasional mereka, nama-nama geografis perairan mereka,” tulis Carney di media sosial. “Warga Kanada juga tahu bahwa menyebut realitas berarti menyebutnya Danau Ontario — dulu, sekarang, dan selamanya.”
Sepanjang masa jabatan keduanya, Trump berulang kali berupaya meremehkan dan mempermalukan Kanada, termasuk dengan menyebutnya sebagai negara bagian AS ke-51, sembari mengkritik praktik perdagangan negara tersebut yang dinilai tidak adil bagi perusahaan-perusahaan AS. Para pengkritik, termasuk sejumlah anggota Partai Republik dari kubunya sendiri, mengecam serangan Trump terhadap Kanada dan menyebutnya sebagai tindakan kontraproduktif yang merendahkan salah satu sekutu terdekat Washington.
Tahun lalu, Trump mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika, tindakan lain yang menyindir negara tetangga sekaligus mitra dagang utama AS. Perubahan nama tersebut berlaku dalam dokumen dan komunikasi federal AS, tetapi tidak diakui secara luas oleh negara lain, termasuk Meksiko.
“Kalau dipikir-pikir, kita punya teluk dan sekarang kita punya danau. Yang kita butuhkan hanya sebuah samudra. Jadi mungkin kita harus mengganti nama Atlantik dan/atau Pasifik. Mungkin kita akan mengubahnya,” kata presiden.
Langkah Trump menjadi babak terbaru dalam perang dagang antara dua sekutu tradisional tersebut, yang pecah setelah AS memberlakukan tarif 50% terhadap barang-barang Kanada senilai miliaran dolar menyusul gagalnya negosiasi. Carney merespons dengan serangkaian tarif balasan yang dijadwalkan mulai berlaku pada 8 September.
Trump kemudian berjanji menggandakan tarif terhadap mobil dan suku cadang dari Kanada menjadi 50% mulai Januari. Pemerintahan Trump juga tengah membahas sanksi perdagangan tambahan dan tindakan lainnya terhadap Kanada setelah Ottawa mengumumkan langkah-langkah balasan tersebut, Bloomberg News sebelumnya melaporkan.
Perundingan perdagangan tingkat tinggi antara kedua pihak belum kembali dilanjutkan. Negosiasi tersebut gagal pada saat-saat terakhir setelah tekanan dari Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, yang menilai kesepakatan tersebut terlalu menguntungkan Kanada, menurut sejumlah orang yang mengetahui masalah tersebut. Pejabat Kanada menuduh tim Trump berupaya mengubah ketentuan kesepakatan pada menit-menit terakhir.
Lutnick pada Kamis menuduh Kanada meninggalkan meja perundingan demi “kepentingan politik,” dengan Carney berupaya mengonsolidasikan dukungan menjelang pemilu di Quebec dan pemungutan suara awal mengenai kemerdekaan Alberta yang dijadwalkan pada Oktober.
“Dugaan saya, begitu pemilihan mereka selesai, Anda akan melihat pesawat yang penuh dengan negosiator Kanada terbang ke sini dan berkata, ‘ayo, ayo, kami akan memberikannya kepada Anda sebelum pemilihan Anda.’ Kami hanya dimanfaatkan oleh mereka, kan?” kata Lutnick kepada wartawan di Washington.
Trump mengatakan dirinya bersedia menunggu, dengan berulang kali menegaskan bahwa AS tidak membutuhkan produk Kanada untuk menggerakkan perekonomiannya. Namun, terlepas dari klaim tersebut, Trump mengakui awal pekan ini bahwa AS bergantung pada Kanada untuk pasokan aluminium ketika negara tersebut berupaya membangun industri dalam negeri.
“Secara egois, kami membutuhkan aluminium di negara ini,” kata Trump dalam kampanye melalui telepon untuk Mike Mazzei, kandidat gubernur Oklahoma dari Partai Republik. “Kami tidak memilikinya. Sebagian besar kami mendapatkannya dari Kanada, dan kami sangat membutuhkannya.”
(bbn)































