Logo Bloomberg Technoz

“Seniku berasal dari halusinasi yang hanya bisa kulihat,” kata Kusama dalam wawancara dengan majalah Bomb pada 1999.

Menurutnya, karya seni merupakan hasil sekaligus jalan keluar dari pergumulannya dengan penyakit yang dideritanya—sejauh itulah ia bersedia membahas persoalan tersebut. “Aku mengikuti benang seni dan entah bagaimana menemukan jalan yang memungkinkanku untuk terus hidup,” tulisnya dalam autobiografinya yang pertama kali diterbitkan pada 2002.

Menjadi seniman sejak muda dan dikenal sebagai sosok nyentrik dalam kancah avant-garde New York pada 1960-an, Kusama meraih ketenaran arus utama yang meningkat pesat pada beberapa dekade terakhir dalam hidupnya ketika berbagai museum ternama menggelar retrospektif karyanya. Sejak awal 2000-an, pameran-pameran besarnya dipadati pengunjung di berbagai galeri seni di seluruh dunia. Ruang-ruang patung yang dipenuhi motif titik khasnya, lukisan Infinity Net yang memusingkan, serta instalasi cermin dengan cahaya berkelip tanpa akhir menarik massa di berbagai tempat, mulai dari Los Angeles hingga pulau kecil Naoshima di Jepang.

Pada 2024, ia tercatat sebagai seniman kontemporer dengan penjualan tertinggi di dunia, mengungguli nama-nama ternama seperti David Hockney dan Lucian Freud dengan nilai penjualan US$58,8 juta.

Ketegangan Keluarga

Kusama lahir pada 22 Maret 1929 di kota Matsumoto, Jepang, dari keluarga berada yang memiliki usaha pembibitan tanaman. Masa kecilnya diwarnai berbagai ketidaknyamanan. Masalah jantung dan asma, ditambah ketegangan keluarga yang dipicu oleh ayahnya yang gemar berselingkuh dan ibunya yang mudah meledak-ledak, mendorongnya mencari pelarian melalui seni.

Ketika berusia sekitar 10 tahun, ia mengenang pernah melihat bunga violet dengan “ekspresi aneh” yang seolah berbicara satu sama lain di sebuah taman. Terkadang, seolah ada selubung tipis yang turun dan memisahkannya dari lingkungan sekitar. Ia melihat pola jaring dan titik-titik menyebar hingga menelan lingkungan di sekelilingnya, gambaran yang kemudian secara kompulsif dituangkan Kusama muda ke atas kertas. Lukisan-lukisannya menumpuk hingga mendekati langit-langit kamarnya.

Ia kemudian masuk Kyoto Municipal School of Arts and Crafts, dan labu menjadi salah satu objek yang membuatnya terobsesi.

“Seperti Bodhidharma yang menghabiskan 10 tahun menghadap dinding batu, aku menghabiskan waktu hingga sebulan hanya untuk menghadap satu buah labu,” kenangnya. “Aku bahkan menyesal harus meluangkan waktu untuk tidur.”

Namun, bentuk-bentuk seni yang baku tidak mampu membatasi Kusama dalam waktu lama. Pada akhir usia 20-an, ia pindah ke Amerika Serikat. Di sana, nalurinya untuk mendorong batas-batas seni lukis, ditambah bakatnya dalam menciptakan pertunjukan spektakuler, berkembang sepenuhnya. Karyanya meluas dari lukisan Infinity Net dan patung lunak pada masa awal menjadi apa yang disebutnya “happenings”—pertunjukan publik spontan atau semi-terstruktur yang kerap memiliki nuansa politik atau seksual.

Salah satu pertunjukan paling terkenalnya, Grand Orgy to Awaken the Dead (1969), melibatkan orang-orang telanjang yang tubuhnya dilukis dengan polkadot dan bergerak di taman patung terbuka Museum of Modern Art di New York City. Aksi tersebut dilakukan tanpa izin museum. Dalam pertunjukan lainnya, Horse Play (1967), Kusama menutupi seekor kuda dengan titik-titik putih. Selebaran dan siaran persnya menjelaskan tujuan artistiknya. Salah satunya berbunyi, “Jadilah satu dengan keabadian. Lenyapkan kepribadianmu. Jadilah bagian dari lingkunganmu. Lupakan dirimu.”

Sebuah patung karya Kusama di puncak toko Louis Vuitton di Champs-Élysées, Paris. (Foto: Bloomberg News)

Kombinasi yang Menghebohkan

Namun, kelihaian Kusama dalam menarik perhatian publik mulai memberinya reputasi tertentu. Polisi tidak jarang membubarkan pertunjukannya. Meski pertunjukan “happenings” miliknya menyalurkan semangat kebebasan seksual pada 1960-an, media justru menyambut kontroversi yang muncul dari perpaduan ketelanjangan, sosok seniman perempuan Jepang yang eksentrik, dan aksi protes antikemapanan. Julukan tabloid untuk Kusama antara lain “Priestess of Polka Dots” (Imam Wanita Polkadot) dan “Dotty”.

Setelah lebih dari 12 tahun meninggalkan Jepang, Kusama kembali ke Tokyo pada 1970 dan awalnya kesulitan membawa kembali gaya seninya yang kontroversial. Foto-foto provokatifnya diblokir. Berulang kali dirawat di rumah sakit, kondisi mental dan fisiknya pun menunjukkan kerapuhan.

Setelah memutuskan menjalani perawatan di Seiwa Hospital, ia mulai menghasilkan karya dalam jumlah yang sangat besar.

Era ini jauh berbeda dari energi liar dan transgresif dalam pertunjukannya di New York. Sebaliknya, karya-karyanya menjadi pengalaman minimalis yang menyelimuti penonton melalui garis dan warna, yang menggambarkan halusinasi masa kecilnya yang tak terkendali. Cermin juga membawa penonton masuk ke dalam visi Kusama yang memusingkan tentang pengulangan tanpa batas.

Pada 1993, ia menghadiri Venice Biennale sebagai perempuan pertama yang secara resmi mewakili Jepang. Itu bukan kali pertamanya berada di sana. Pada 1966, ia datang tanpa jadwal resmi, memasang 1.500 bola cermin dalam sebuah karya bernama “Narcissus Garden” dan menjualnya seharga US$2 per buah sebelum akhirnya dilarang oleh pejabat setempat. Kini, sebagai salah satu tokoh utama seni kontemporer Jepang, ia tampil dalam balutan busana kuning-hitam bermotif titik yang rapi dan mencolok, serta membagikan labu-labu mini dengan warna senada.

Naluri Kusama dalam menciptakan pertunjukan spektakuler mungkin telah membuatnya mendahului zamannya. Pada 1990-an hingga memasuki milenium baru, karyanya mendapat sambutan luar biasa, baik dari dunia seni maupun masyarakat luas.

Demam Merchandise

Ketika Untitled (Nets), karya tahun 1959, terjual dengan rekor US$10,5 juta pada 2022, Kusama telah menjadi nama yang dikenal luas. Motif polkadot bergelombang tidak hanya menghiasi patung, tetapi juga map A4, gantungan kunci, dan berbagai barang dagangan lainnya. Motif tersebut bahkan ditorehkan pada produk berbahan kulit Louis Vuitton. Di dunia seni, para pesaing dan kritikus mulai berbisik soal eksposur Kusama yang berlebihan.

Meski ketenarannya terus meningkat, Kusama justru semakin menjauh dari kehidupan publik. “Aku tidak memiliki hubungan dengan dunia seni,” tulis Kusama pada 2002. “Aku hanya terus menggali semakin dalam ke dalam diriku sendiri.”

Ia memilih untuk tidak menghadiri pembukaan pamerannya, sementara wawancara langsung terakhirnya tercatat dilakukan pada pertengahan 2010-an. Namun, sosoknya tetap hadir di berbagai katalog dan buku: potongan rambut bob pendek berwarna cerah di atas tatapan mata yang tanpa senyum, dengan tubuh dibalut kain bermotif berani.

Sepanjang hidupnya yang dihabiskan untuk menghadapi ketakutan, obsesi, dan kematian, Kusama terus kembali pada satu gagasan: bahwa diri seseorang pada akhirnya bersifat sementara. Di luar diri itu terdapat apa yang disebutnya keabadian—ruang tak terbatas tempat kita akhirnya menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri. Polkadot, menurutnya, merupakan simbol dari gagasan tersebut. Bagi Kusama, peleburan bukanlah kehancuran, melainkan tahap berikutnya.

“Dengan melenyapkan diri individu, seseorang kembali ke alam semesta yang tak terbatas,” katanya pada 1999.

(bbn)

No more pages