Logo Bloomberg Technoz

“Kami sangat menyambut baik pertumbuhan hijau. Ini merupakan contoh lain bahwa Indonesia benar-benar menjadi negara terdepan dalam percakapan global mengenai penanganan perubahan iklim dan dalam menghadirkan solusi nyata dan konkret terhadap persoalan tersebut.”

Untuk diketahui, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah melakukan pembahasan mengenai transisi energi bersama Presiden Republik Korea Lee Jae Myung pada kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan pada April 2026.

Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin menekankan perlunya kerja sama dalam menanggapi perubahan iklim, termasuk memenuhi komitmen iklim, dan berkomitmen untuk memperkuat kerja sama di bidang transisi energi dan ekonomi hijau.

Menyitir situs resmi The Renewable Energy Institute, Korea Selatan saat ini memiliki kapasitas energi terbarukan sebesar 37 gigawatt (GW).

Kemudian, di bawah janji baru yang diumumkan pada 6 April 2026, mereka bertujuan untuk meningkatkannya menjadi 100 GW dalam empat tahun ke depan.

Di Indonesia, Prabowo baru saja melakukan peluncuran dan peletakan batu pertama (groundbreaking) program PLTS berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) awal pekan ini. 

Prabowo mengatakan pada tahap awal program ini diawali dengan 14 PLTS di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau berkapasitas total 5,3 GWp.

Total kebutuhan investasi dari program PLTS 100 GWp adalah US$73 miliar atau setara dengan Rp1.140 triliun.

"Saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia dengan ini secara resmi saya luncurkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya 100 GWp diawali dengan 14 PLTS di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau berkapasitas total 5,3 GWp," ujar Prabowo, Selasa (25/8/2026).

(dov/wdh)

No more pages