Logo Bloomberg Technoz

Pelaku pasar sepertinya kini memiliki semacam jaminan psikologis bahwa pemerintah AS tidak akan membiarkan yield US Treasury tenor panjang melonjak tanpa intervensi.

Meski program buyback relatif kecil, senilai US$14 miliar, dibandingkan total utang AS yang sebesar US$40 triliun, tetapi paling tidak secara psikologis langkah ini memberi kepastian. Investor kini melihat bahwa jika tekanan jual obligasi AS kembali membesar, maka pemerintah AS berpotensi masuk sebagai pembeli. 

Langkah Bessent yang melakukan buyback US Treasury, berpotensi memberi sentimen positif terhadap rupiah dan mata uang Asia, yang setidaknya bisa datang dari terpangkasnya yield US Treasury. Di sisi lain, pelemahan dolar AS yang membuat indeks dolar AS berada di kisaran 98, menopang penguatan sebagian mata uang kawasan. 

Selain itu, penurunan yield di pasar obligasi AS juga membuka peluang aliran modal masuk ke pasar surat utang pemerintah. Aliran modal asing sudah terilhat masuk ke pasar Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan Senin (24/8/2026). 

Dari 18 tenor, sebanyak 14 tenor mencatat penurunan yield. Penurunan yield paling tajam terjadi di tenor 9 tahun yang terpangkas 10,8 basis poin (bps) menjadi 6,98%, diikuti tenor 2 tahun yang merosot 6,8 bps menjadi 6,58%. Sementara yield tenor 4 tahun turun 3 bps menjadi 6,78%, dan tenor 20 tahun turun 3,1 bps menjadi 7,12%. Sedangkan tenor 5 tahun turun 2,5 bps ke 6,82%. 

Investor global tercatat membukukan pembelian bersih surat utang domestik sebesar US$656,7 juta pada 20 Agustus, dan menjadi level tertinggi sejak Juli 2019. Begitu juga di pasar saham, investor masih mencatat pembelian saham domestik senilai US$55,2 juta pada 21 Agustus. 

Aliran modal diperkirakan kembali terbang ke pasar negara berkembang, terlebih setelah AS merilis data tingkat keyakinan konsumennya yang merosot turun 0,8 poin menjadi 89,4 pada Agustus, ini level terendah sejak awal tahun. 

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh memburuknya prospek kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja. Tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) serta tekanan biaya hidup yang kian meluas, ditambah dengan melambatnya perekrutan tenaga kerja, terus membebani rumah tangga di AS bulan ini. 

Sementara itu, belum ada katalis dari sisi domestik. Perhatian pelaku pasar masih akan tertuju pada bagaimana penanganan pemerintah terkait bencana alam gempa bumi dan kebakaran kebakaran hutan yang menciptakan kabut asap. 

Presiden Prabowo Subianto sepertinya ingin menunjukkan komitmennya dalam mempercepat penanganan karhutla dengan melanjutkan peninjauan langsung dampak karhutla di sejumlah tempat, seperti di Riau.

Tak cuma itu, Prabowo juga menggelar rapat koordinasi dan menjanjikan akan mengirim sejumlah peralatan tambahan seperti helikopter, mesin pompa, alat berat, hingga motor trail untuk mempercepat pemadaman. 

Dengan berbagai sentimen yang berkelindan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan stabil bergerak di rentang Rp17.700-17.750/US$ hari ini.

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai tukar rupiah ada peluang menguat hari ini. Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat pada level Rp17.700/US$, resistance potensial selanjutnya bisa kembali menembus Rp17.650/US$ usai break trendline sebelumnya.

Analisis Teknikal Rupiah Rabu 26 Agustus 2026 (Sumber: Bloomberg)

Rupiah juga terdapat level Rp17.600/US$ sebagai acuan paling optimistis penguatan di dalam time frame daily, di tren jangka pendek (short-term).

Jika nilai tukar rupiah justru kembali melemah, level support terkuatnya pada level Rp17.740/US$, maka mengonfirmasi support selanjutnya pada level Rp17.800/US$ hingga support psikologis Rp17.850/US$.

(riset/aji)

No more pages