Logo Bloomberg Technoz

Konversi PLTD Buat PLTS 100 GW Diminta Tak Ulangi Dedieselisasi

Azura Yumna Ramadani Purnama
26 August 2026 09:10

Panel surya dari Asia Tenggara dikenai bea masuk oleh AS. (Bloomberg)
Panel surya dari Asia Tenggara dikenai bea masuk oleh AS. (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Institute for Essential Services Reform (IESR) meminta pemerintah untuk belajar dari tak optimalnya program dedieselisasi atau penggantian pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) PT PLN (Persero), dalam menjalankan konversi PLTD menjadi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menduga sekitar 13 gigawatt (GW) PLTD yang bakal dikonversi menjadi PLTS akan masuk menjadi bagian program PLTS berkapasitas total 100 gigawatt (GW).

Langkah tersebut sah-sah saja dilaksanakan, tetapi dia juga mengingatkan bahwa pemerintah sempat memiliki program dedieselisasi yang diluncurkan era Presiden ke-7 Joko Widodo.


Menurut Fabby, program dedieselisasi tak berjalan optimal sebab hingga saat ini masih terdapat PLTD milik PLN yang beroperasi.

“Kan sebenarnya direncanakan pada saat itu 2024 dediselisasi PLN sudah selesai ya penggantian PLTD itu, tetapi kenyataannya kan tidak begitu. Nah sekarang dimasukkan ke dalam bagian dari [proyek PLTS] 100 gigawatt,” kata Fabby ketika dihubungi, Rabu (26/8/2026).