Menteri Keuangan Scott Bessent dijadwalkan akan memaparkan rencana pada Senin ini mengenai "isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia". Perusahaan penyulingan China dan bank-bank yang mendanai mereka menjadi sasaran utama yang diincarnya—tetapi potensi dampak finansial dan diplomatik dari langkah "economic D-Day" ini menjadi sorotan tajam di tengah kondisi harga minyak yang tinggi dan pasokan yang mendekati titik terendah.
Hingga saat ini, upaya AS untuk mengisolasi Iran lebih fokus pada pemain berskala lebih kecil dalam industri minyak, dengan menjatuhkan sanksi terhadap kilang swasta, pelabuhan, dan agen-agen kecil.
AS sejauh ini menahan diri untuk tidak melakukan penegakan aturan yang terlalu keras, karena khawatir akan dampak negatif terhadap hubungan dengan Beijing dan risiko lonjakan harga minyak.
Namun, awal tahun ini, Washington menjatuhkan sanksi terhadap Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co. Ltd., salah satu kilang swasta terbesar di China. Langkah ini membuka jalan baru yang tak terduga dan memicu reaksi keras yang tidak biasa, di mana China memerintahkan perusahaan-perusahaan domestiknya untuk tidak mematuhi sanksi tersebut.
Sejauh ini, AS belum sampai menargetkan bank-bank besar China.
Pada level saat ini, harga minyak Iran mendekati level tertinggi sejak akhir masa jabatan pemerintahan Trump sebelumnya, ujar Emma Li, analis utama pasar China di perusahaan analitik Vortexa.
"Hal ini dapat mendorong kilang-kilang independen [teapots] untuk kembali beralih ke jenis minyak konvensional seperti yang mereka lakukan pada Juli, atau sekadar mengurangi produksi," katanya.
Tingginya harga acuan dan perubahan struktural jangka panjang—seperti terus meningkatnya penggunaan kendaraan listrik—telah menekan permintaan di China, sehingga semakin memperburuk prospek bagi kilang-kilang berskala kecil.
Iran telah bertahan menghadapi sanksi berat selama beberapa dekade, dan belum jelas apakah ancaman perang ekonomi mampu mengalihkan fokus dari operasi militer yang telah berlangsung berbulan-bulan tetapi belum berhasil memaksa Iran untuk menyerah. Kendati demikian, Bessent bertekad untuk memutus "setiap jalur kehidupan ekonomi" negara tersebut.
"Pihak-pihak yang memfasilitasi Iran membeli dan mengangkut minyaknya. Mereka memuluskan aliran keuangan Iran melalui perusahaan penukaran mata uang dan kawasan perdagangan bebas," tulis Bessent dalam kolom yang diterbitkan di Financial Times pada Senin.
"Singkatnya, negara-negara ini menganggap sikap lunak terhadap rezim tersebut sebagai langkah yang lebih aman. Namun, ada baiknya mereka mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan melanggengkan rezim itu."
(bbn)

































