Logo Bloomberg Technoz

Derasnya arus modal masuk yang membanjiri pasar surat utang menjadi salah satu penopang, meski pergerakan rupiah belum banyak berubah dan masih berada di rentang Rp17.650-17.750/US$. 

Investor global tercatat membukukan pembelian bersih surat utang domestik sebesar US$656,7 juta pada 20 Agustus, dan menjadi level tertinggi sejak Juli 2019. Begitu juga di pasar saham, investor masih mencatat pembelian saham domestik senilai US$55,2 juta pada 21 Agustus. 

Aksi beli oleh investor asing ini telah memperkuat posisi rupiah sepanjang pekan lalu, serta membuat yield tenor pendek dan menengah di pasar obligasi lebih landai. 

Meski begitu, yield surat utang RI berdenominasi dolar Amerika Serikat alias INDON untuk tenor acuan 10 tahun justru tercatat naik 0,9 bps ke 5,67%. 

Namun, menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, pelemahan dolar AS tetap memberikan katalis positif bagi rupiah, sekaligus menjaga daya tarik aset domestik bagi investor asing. 

Selain itu, premi risiko Indonesia terpangkas, dengan turunnya Credit Default Swap (CDS) INDON 5 tahun yang berada di 84,66, turun dari posisi tertingginya di 105,95 pada Maret 2026.  

Untuk diketahui, stabilnya pergerakan aset rupiah juga tertopang oleh indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama yang masih terpangkas dan bertahan stabil di 98,82. Pelemahan ini mendorong penguatan pada sebagian mata uang Asia pagi ini. Won menguat paling tajam 0,47%, disusul baht Thailand 0,15%, dan dolar Taiwan 0,11%. 

(dsp/aji)

No more pages