Logo Bloomberg Technoz

Sejak pendiri Nissin, Momofuku Ando, menemukan mi instan pada 1958, formula dasarnya selalu mengandalkan air panas, bahkan untuk beberapa varian yang memang dimaksudkan untuk didinginkan sebelum disantap. Produk baru ini dijual seharga ¥307 (sekitar US$2) per cup dan dikembangkan selama lima tahun. Mi tersebut dapat disantap setelah hanya lima menit, menjawab meningkatnya permintaan terhadap makanan dingin selama cuaca panas.

Nissin, yang memiliki kapitalisasi pasar ¥869 miliar, mengatakan produk barunya menggunakan proses yang telah dipatenkan sehingga menghasilkan mi yang lembut sekaligus tetap kenyal.

Cold Cup Noodle menjadi viral di media sosial. Para influencer mencicipinya dan mencoba berbagai jenis cairan—seperti susu kedelai atau teh—untuk melunakkan mi tersebut.

Demam Cold Cup Noodle bahkan telah menyebar hingga Hong Kong. Menurut surat kabar lokal gratis The Standard, sebuah toko setempat menggelar acara penjualan khusus selama satu hari dan konsumen mengantre untuk mencicipi inovasi makanan terbaru dari Jepang tersebut.

Juru bicara Nissin mengatakan perusahaan mendapat masukan bahwa mi dingin juga dapat digunakan sebagai makanan darurat karena tidak memerlukan langkah tambahan untuk menyiapkan air panas. Ketika ditanya apakah perusahaan berencana meningkatkan produksi, menjual produk tersebut sepanjang tahun, atau memperkenalkan varian rasa baru, juru bicara tersebut mengatakan, “Belum ada keputusan yang dibuat saat ini. Kami akan mempertimbangkan langkah selanjutnya berdasarkan berbagai faktor, termasuk kinerja penjualan produk ini.”

Pendekatan kreatif Nissin melalui Cold Cup Noodle merupakan ciri khas perusahaan dan akan berdampak positif terhadap mereknya, menurut Shoichi Arisawa, analis senior di Iwai Cosmo Securities Co.

“Perusahaan memberikan nilai tambah tersebut melalui peluncuran produk-produk unik, alih-alih terlibat dalam persaingan harga,” kata Arisawa.

(bbn)

No more pages