Logo Bloomberg Technoz

Penurunan ini bertepatan dengan upaya menyeluruh Tiongkok untuk membendung arus modal keluar (capital outflows) dan merebut kembali pendapatan pajak, termasuk kontrol yang lebih ketat pada perdagangan saham lintas batas serta tuntutan agar warga negara membayar retribusi miliaran dolar atas aset dan keuntungan investasi luar negeri mereka. Langkah-langkah ini telah menekan selera belanja warga Tiongkok yang kaya, sehingga mengancam pemulihan pasar barang mewah yang baru dimulai kurang dari setahun lalu berkat lonjakan pasar saham berbasis kecerdasan buatan (AI).

"Para pengelola mulai melaporkan sikap yang lebih berhati-hati di antara klien VIP mereka menyusul melemahnya wealth effect (efek kekayaan) dan lingkungan pajak yang lebih ketat bagi konsumen berpenghasilan tinggi," ujar Jacques Roizen, pendiri pendamping dari firma konsultan Foresight Performance Partners yang berbasis di Shanghai. "Ada kekhawatiran beralasan di antara para eksekutif barang mewah saat melihat kinerja bulan Juli."

LVMH, Kering, Hermes, Chanel, dan Prada tidak segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Langkah-langkah baru Tiongkok ini menjadi perombakan terbesar pada sistem keuangan lintas batas negara tersebut dalam satu dekade terakhir, yang makin memperketat jalur yang selama ini digunakan oleh rumah tangga berpenghasilan tinggi untuk menjaga dan mendiversifikasi kekayaan mereka. Pengetatan ini berkontribusi menghapus reli sebesar 28,3% pada Indeks MSCI China tahun lalu, yang turun 8,9% tahun ini — salah satu kinerja terburuk di antara pasar global utama. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga kehilangan momentum setelah mencetak kenaikan kuat pada tahun 2025.

Penurunan pasar ini kian mengikis kepercayaan konsumen. Dengan melemahnya nilai properti, warga Tiongkok yang kaya makin banyak mengalihkan uang mereka ke saham dan aset keuangan lainnya, membuat mereka lebih sensitif terhadap fluktuasi pasar. Di pusat perjudian Makau, kasino melaporkan penurunan pendapatan yang lebih tajam dari perkiraan pada bulan Juni dan Juli, di mana para penjudi kelas atas (high-rollers) bertaruh lebih sedikit dan lebih jarang berkunjung.

Merek-merek mewah global menghadapi penurunan penjualan yang kian mendalam di Tiongkok, seiring dengan kampanye negara tersebut dalam mengenakan pajak atas kekayaan di luar negeri (offshore wealth). Hal ini menimbulkan dampak berantai dari pasar saham hingga lantai kasino, serta menekan pengeluaran dari para konsumen terkaya di negara itu.

Penjualan di 25 label mewah terbesar di Tiongkok melon penurunan lebih dari 10% pada bulan Juli, menurut tiga firma riset yang dipantau oleh Bloomberg. Penurunan ini lebih buruk dibandingkan perlambatan pada bulan Juni, sekaligus menandai pembalikan tajam dari kuatnya bisnis di awal tahun ini.

Merek Louis Vuitton dan Dior milik LVMH, serta Gucci, Bottega Veneta, dan Balenciaga milik Kering SA seluruhnya mencatat penurunan penjualan hingga dua digit, sementara Hermes berbalik dari pertumbuhan menjadi penurunan. Pertumbuhan untuk Chanel dan Prada juga melambat secara signifikan.

Bagi raksasa barang mewah global, penurunan ini menambah ketidakpastian terhadap prospek di salah satu pasar terpenting mereka. Tiongkok sebelumnya menjadi mesin utama pertumbuhan industri mewah selama berdekade-dekade. Namun, persaingan untuk menggaet pembeli terkaya makin ketat di tengah pemangkasan pengeluaran oleh kelas menengah akibat kelesuan ekonomi negara tersebut.

Penurunan ini bertepatan dengan upaya menyeluruh Tiongkok untuk membendung arus modal keluar (capital outflows) dan merebut kembali pendapatan pajak, termasuk kontrol yang lebih ketat pada perdagangan saham lintas batas serta tuntutan agar warga negara membayar retribusi miliaran dolar atas aset dan keuntungan investasi luar negeri mereka. Langkah-langkah ini telah menekan selera belanja warga Tiongkok yang kaya, sehingga mengancam pemulihan pasar barang mewah yang baru dimulai kurang dari setahun lalu berkat lonjakan pasar saham berbasis kecerdasan buatan (AI).

"Para pengelola mulai melaporkan sikap yang lebih berhati-hati di antara klien VIP mereka menyusul melemahnya wealth effect (efek kekayaan) dan lingkungan pajak yang lebih ketat bagi konsumen berpenghasilan tinggi," ujar Jacques Roizen, pendiri pendamping dari firma konsultan Foresight Performance Partners yang berbasis di Shanghai. "Ada kekhawatiran beralasan di antara para eksekutif barang mewah saat melihat kinerja bulan Juli."

LVMH, Kering, Hermes, Chanel, dan Prada tidak segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Langkah-langkah baru Tiongkok ini menjadi perombakan terbesar pada sistem keuangan lintas batas negara tersebut dalam satu dekade terakhir, yang makin memperketat jalur yang selama ini digunakan oleh rumah tangga berpenghasilan tinggi untuk menjaga dan mendiversifikasi kekayaan mereka. Pengetatan ini berkontribusi menghapus reli sebesar 28,3% pada Indeks MSCI China tahun lalu, yang turun 8,9% tahun ini — salah satu kinerja terburuk di antara pasar global utama. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga kehilangan momentum setelah mencetak kenaikan kuat pada tahun 2025.

Penurunan pasar ini kian mengikis kepercayaan konsumen. Dengan melemahnya nilai properti, warga Tiongkok yang kaya makin banyak mengalihkan uang mereka ke saham dan aset keuangan lainnya, membuat mereka lebih sensitif terhadap fluktuasi pasar. Di pusat perjudian Makau, kasino melaporkan penurunan pendapatan yang lebih tajam dari perkiraan pada bulan Juni dan Juli, di mana para penjudi kelas atas (high-rollers) bertaruh lebih sedikit dan lebih jarang berkunjung.

July retail sales growth is among the slowest since Covid reopening. (Sumber: China's National Bureau of Statistics)

Grup LVMH milik miliarder Bernard Arnault juga tengah menghadapi dampak dari perselisihan merek dagang dengan perusahaan minuman lokal, Molly Tea. Meskipun Louis Vuitton memenangkan kasus pelanggaran merek dagang yang melibatkan motif bunga empat kelopak khasnya, insiden tersebut memicu reaksi keras di media sosial, di mana tuduhan perampasan budaya (cultural appropriation) menjadi viral.

Sebagai catatan, merek-merek mewah ini juga harus berhadapan dengan cuaca panas ekstrem, curah hujan tinggi, dan lonjakan perjalanan ke luar negeri selama libur musim panas bulan Juli, yang turut menyebabkan penurunan angka kunjungan (foot traffic) dan penjualan.

Bulan Agustus akan menjadi ujian krusial bagi tingkat kepercayaan konsumen, mengingat Hari Valentine Tiongkok — yang biasanya menjadi salah satu momen belanja barang mewah terbesar di negara tersebut — jatuh pada minggu ini, ungkap Roizen dari Foresight Performance Partners.

"Jika merek-merek ini tidak dapat menghasilkan pertumbuhan positif bahkan dengan dorongan tersebut, saya akan menganggapnya sebagai bukti kuat terjadinya perlambatan yang nyata," ujarnya.

(bbn)

No more pages