Logo Bloomberg Technoz

Pada Selasa, sebuah kapal tanker bahan bakar bernama Amara terkait dengan Uni Emirat Arab melakukan beberapa kali manuver putar balik di selat tersebut dan hingga Rabu masih berada di perairan dekat Iran.

Sea V (biru) berbalik arah di selat tersebut saat meninggalkan Teluk Persia, sedangkan Hestia (putih) membatalkan rencananya untuk masuk. (Bloomberg)

Lalu lintas kapal yang terlihat melalui jalur perairan sempit tersebut telah melambat drastis karena ancaman serangan dari Iran masih tinggi. Pada Selasa, Angkatan Laut Inggris melaporkan sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal saat sedang keluar dari teluk di sepanjang pantai Oman, menambah deretan serangan terbaru terhadap kapal-kapal.

Risiko terhadap pelayaran diperkirakan akan terus berlanjut, setelah Trump menegaskan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Teheran, sehingga konflik yang terus memanas di Timur Tengah tetap dalam ketidakpastian.

Negosiator utama Iran untuk urusan AS juga menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali hingga Washington menyetujui daftar langkah, termasuk mencabut blokade angkatan lautnya, menghapus sanksi minyak, dan menghentikan operasi militer.

Meskipun ada ancaman, kapal-kapal tampaknya masih melintasi Selat Hormuz ke dua arah. Kapal Sweden Prosperity, VLCC berbendera Liberia, telah memasuki Teluk dengan transponder dimatikan, muncul kembali pada Rabu dini hari, dan memberi sinyal bahwa kapal tersebut sedang menuju tempat berlabuh di Dubai.

Singapore Prosperity, kapal VLCC berbendera Liberia lainnya, terlihat dalam kondisi muatan penuh di lepas pantai Fujairah pada Rabu dini hari, setelah terakhir kali terlihat di dekat Arab Saudi di Teluk, yang mengindikasikan bahwa kapal tersebut telah melintasi Selat Hormuz semalam tanpa melaporkan lokasinya.

(bbn)

No more pages