Selain pemanfaatan ekonomi, peralihan atau percepatan teknologi untuk produksi baja juga dapat meningkatkan penciptaan lapangan kerja. Salah satunya adalah teknologi Electric arc furnace (EAF) atau tungku busur listrik. Sebagai informasi, alat ini dipakai untuk melebur logam dan mendaur ulang rongsokan baja menjadi produk baja baru secara efisien.
Kajian tersebut mencatat setiap Rp1 investasi pada teknologi EAF dapat menghasilkan total output ekonomi sekitar Rp1,77 lebih tinggi dibandingkan teknologi blast furnace-basic oxygen furnace (BF-BOF) sebesar Rp1,73.
Selain itu, dari sisi ketenagakerjaan investasi EAF juga diperkirakan bisa menghasilkan sekitar 4,25 lapangan kerja per Rp1 miliar investasi, sedikit lebih tinggi dibandingkan BF-BOF yang mencapai 4,15 lapangan kerja.
"Jadi kalau kita lihat dari simulasi ini, kita bisa melihat bahwa kemudian trade kita, neraca kita itu lebih baik ketika kita melakukan dekarbonisasi. Terutama ketika kita menggunakan skenario yang lebih progresif," pungkasnya.
(ain)
































