Logo Bloomberg Technoz

“Selama tekanan rupiah masih dapat dikelola melalui intervensi spot, DNDF, SBN dan instrumen moneter lainnya, kami melihat BI masih mempunyai ruang untuk mempertahankan rate [suku bunga],” jelas dia. 

Senada, Kepala Ekonom BCA David Sumual juga memproyeksikan BI Rate tetap bertahan di level 5,75%. 

Menurutnya, kondisi market relatif kondusif lantaran investor kembali mengambil risiko dengan memindahkan atau menambah uangnya ke negara-negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia. Kondisi itu berdampak terhadap yield yang turun dan rupiah yang menunjukan penguatan. 

“Kondisi market relatif kondusif dimana investor kembali risk on ke emerging market (yield turun, rupiah menguat) setelah data ketenagakerjaan dan inflasi AS yang melemah dan banyak data sektor riil RI yang melemah,” tutur David. 

Diketahui, sepanjang Mei hingga Juni 2026, bank sentral menaikkan BI-Rate secara bertahap hingga 100 bps. Pada Mei 2026, BI-Rate naik 50 basispoin dari 4,75% menjadi 5,25%.

Selanjutnya, dalam RDG mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,50%. Pada RDG Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Sementara itu, dalam RDG Juli 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.

(lav)

No more pages