Logo Bloomberg Technoz

Di bawahnya terdapat Denza D9 dengan 464 unit, MG S5 sebanyak 449 unit, Geely EX5 dengan 348 unit, Wuling Darion EV sebanyak 306 unit, serta VinFast VF 3 yang mencatat 262 unit.

Pertumbuhan pasar tersebut membuat kebutuhan terhadap infrastruktur pengisian daya ikut menjadi perhatian. Salah satu pilihannya adalah DC Charger yang menawarkan kemampuan pengisian lebih cepat dibandingkan charger AC untuk penggunaan di rumah.

Seorang pengemudi mencabut Hyundai Kona dari stasiun pengisian daya kendaraan listrik ChargePoint./Bloomberg-Angus Mordant

Harga DC Charger bisa mencapai Rp130 juta

Meski menawarkan kecepatan pengisian yang lebih tinggi, DC Charger membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Perangkat tersebut juga memerlukan kapasitas listrik besar sehingga pemasangannya tidak bisa disamakan dengan wall charger AC biasa.

Ninis Ribang, Public Relation PT Tri Energi Berkarya (TEB), distributor perangkat pengisian kendaraan listrik, mengatakan DC Charger tetap memungkinkan dipasang di rumah. Namun, pemilik kendaraan harus memperhitungkan kebutuhan daya dan biaya instalasi secara menyeluruh.

Menurut Ninis, unit DC Charger dengan kapasitas paling rendah yang dimiliki TEB saat ini berada pada kisaran 25 kW hingga 30 kW. Kapasitas tersebut sudah membutuhkan daya listrik rumah yang cukup besar.

"Kalau ada mesin DC Delta Charger, unit yang kami punya sekarang, contohnya paling kecil 25 kW atau 30 kW yang DC. Berarti daya yang kita butuhkan 33.000 VA minimal," ujar Ninis kepada Kompas.com di ICE BSD City, Tangerang.

Kebutuhan daya minimal tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan sebelum pemilik kendaraan memutuskan memasang DC Charger. Rumah dengan kapasitas listrik yang belum mencukupi mungkin membutuhkan peningkatan daya terlebih dahulu.

Selain kapasitas listrik, terdapat sejumlah komponen lain yang perlu dipersiapkan. Kebutuhan tersebut mencakup meteran, instalasi kelistrikan, kabel, material pendukung, hingga pekerjaan teknis saat pemasangan perangkat.

Dari sisi harga perangkat, investasi DC Charger juga tergolong tinggi. Ninis mengatakan unit dengan kapasitas tersebut dapat memiliki harga sekitar Rp130 juta.

"DC itu secara harga lumayan mirip sama harga mobilnya. Kayak ini harganya Rp130 juta. Belum materialnya, ke meterannya, sumber dayanya itu belum. Baru unit mesinnya saja," jelas Ninis.

Dengan demikian, angka Rp130 juta belum mencerminkan keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan konsumen. Nilai tersebut baru mencakup unit mesin charger, sedangkan kebutuhan instalasi dan kelistrikan masih harus dihitung secara terpisah.

Besaran biaya akhirnya dapat berbeda pada setiap rumah. Kondisi instalasi listrik yang sudah tersedia, kapasitas daya, jarak pemasangan, kebutuhan material, serta spesifikasi DC Charger akan memengaruhi total investasi.

Mengapa DC Charger membutuhkan daya besar?

Perbedaan utama antara DC Charger dan wall charger AC terletak pada kemampuan serta karakter pengisian dayanya. DC Charger dirancang untuk memberikan suplai listrik dengan kapasitas yang lebih besar sehingga proses pengisian baterai dapat berlangsung lebih cepat.

Konsekuensinya, kebutuhan daya listrik juga meningkat. Karena itu, pemasangan perangkat DC di rumah perlu mempertimbangkan kemampuan jaringan listrik yang tersedia.

Bagi pemilik mobil listrik yang memiliki rumah dengan kapasitas listrik terbatas, pemasangan DC Charger dapat membutuhkan pekerjaan tambahan sebelum perangkat dapat digunakan.

Situasi tersebut berbeda dengan penggunaan wall charger AC yang umumnya dirancang untuk pengisian dalam waktu lebih panjang. Pemilik kendaraan dapat mengisi baterai ketika mobil tidak digunakan, misalnya pada malam hari.

Kapan DC Charger layak dipasang di rumah?

Menurut Ninis, kebutuhan pengisian setiap pemilik kendaraan listrik tidak selalu sama. DC Charger dapat lebih masuk akal bagi konsumen dengan kebutuhan mobilitas tinggi atau memiliki lebih dari satu kendaraan listrik.

Untuk penggunaan harian dengan satu mobil listrik, wall charger AC dinilai lebih sesuai sebagai perangkat home charging. Pengisian dapat dilakukan ketika kendaraan tidak digunakan dalam waktu cukup lama.

"Sebenarnya kalau home charging ini memang diperuntukkan untuk ngecas di rumah sepanjang malam. Maksudnya yang waktunya panjang," ujar Ninis.

Konsep tersebut memungkinkan pemilik kendaraan mengisi baterai pada malam hari dan menggunakan mobil kembali pada keesokan harinya. Dengan pola seperti ini, kebutuhan terhadap pengisian supercepat di rumah menjadi lebih kecil.

Namun, kondisi berbeda dapat terjadi pada rumah yang memiliki dua mobil listrik. Jika kedua kendaraan digunakan setiap hari dan hanya tersedia satu charger, pemilik harus mengatur waktu pengisian secara bergantian.

"Kalau misalnya kita punya dua mobil dengan satu charger yang kita pasang, berarti kita otomatis harus gantian," katanya.

Dalam kondisi tersebut, waktu menjadi faktor penting. Jika kedua kendaraan membutuhkan baterai penuh dalam periode yang berdekatan, satu charger mungkin tidak cukup fleksibel untuk memenuhi kebutuhan pemilik.

Ninis menyebut penambahan charger dapat dipertimbangkan apabila dua kendaraan sama-sama digunakan setiap hari. Pilihan tersebut dapat memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengatur waktu pengisian.

"Kalau memang buat daily semuanya, kita memasangnya mungkin enggak cuma satu karena waktunya enggak cukup. Kecuali di kantornya ada DC atau di kantornya ada charger lagi, mungkin itu lebih aman," ujar Ninis.

DC Charger lebih cocok untuk kebutuhan intensif

Tingginya kebutuhan daya dan harga perangkat membuat DC Charger dinilai lebih cocok untuk lokasi komersial atau area publik. Perangkat tersebut dapat memberikan manfaat lebih besar ketika digunakan oleh banyak kendaraan yang membutuhkan pengisian dalam waktu singkat.

"Makanya kenapa DC itu disarankan untuk residensial atau public, area komersial," kata dia.

Meski begitu, pemasangan di rumah bukan sesuatu yang mustahil. Pemilik kendaraan yang memiliki kebutuhan khusus tetap dapat mempertimbangkannya selama kapasitas listrik, instalasi, dan anggaran sudah disiapkan.

Keputusan memilih DC Charger atau wall charger AC sebaiknya tidak hanya berdasarkan kecepatan pengisian. Pemilik juga perlu melihat pola penggunaan kendaraan setiap hari.

Jumlah mobil listrik yang dimiliki, jarak perjalanan harian, durasi kendaraan terparkir, kapasitas listrik rumah, serta kemampuan anggaran menjadi beberapa faktor yang perlu diperhitungkan.

Bagi pemilik satu mobil listrik yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas rutin dan dapat mengisi daya pada malam hari, wall charger AC cenderung lebih rasional. Investasinya lebih rendah dan kebutuhan listriknya juga tidak sebesar DC Charger.

Sementara itu, DC Charger dapat menjadi pertimbangan bagi pengguna yang membutuhkan pengisian lebih cepat dan memiliki mobilitas tinggi. Pilihan ini juga dapat dipertimbangkan oleh pemilik beberapa kendaraan listrik yang membutuhkan fleksibilitas pengisian.

Pada akhirnya, DC Charger menawarkan kecepatan pengisian yang menjadi keunggulan utama, tetapi konsekuensinya adalah kebutuhan daya dan investasi yang lebih tinggi. Dengan harga unit yang dapat mencapai sekitar Rp130 juta sebelum biaya instalasi, pemilik perlu menghitung kebutuhan secara matang.

Jika kebutuhan pengisian hanya sebatas mengisi baterai kendaraan ketika malam hari, wall charger AC masih menjadi pilihan yang lebih praktis. Sebaliknya, bagi pengguna dengan kebutuhan pengisian cepat dan intensif, investasi DC Charger dapat dipertimbangkan selama kondisi kelistrikan rumah mendukung.

(seo)

No more pages