Data tersebut dirilis ketika perekonomian Jepang menghadapi dampak konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga bahan bakar dan produk berbasis minyak bumi, sekaligus mengganggu sejumlah rantai pasok. Perlambatan yang tak terduga ini dapat mempersulit komunikasi kebijakan Bank of Japan (BOJ) ketika bank sentral mempertimbangkan waktu kenaikan suku bunga berikutnya.
Hingga Senin pagi, pelaku pasar memperkirakan probabilitas BOJ menaikkan suku bunga acuannya mencapai 80% pada keputusan kebijakan berikutnya, yang dijadwalkan pada 18 September, berdasarkan harga di pasar overnight swaps.
Di antara faktor lain yang menekan pertumbuhan, konsumsi swasta tercatat stagnan dan meleset dari konsensus yang memperkirakan kenaikan 0,4%. Pada kuartal sebelumnya, konsumsi swasta tumbuh 0,5% setelah direvisi. Hasil tersebut kemungkinan mencerminkan keengganan masyarakat untuk berbelanja akibat frustrasi terhadap kenaikan biaya hidup.
Indikasi lemahnya permintaan domestik menjadi perhatian bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi. Tingkat kepuasan terhadap pemerintahannya mulai menurun sekitar enam bulan setelah kemenangan telak dalam pemilu, ketika konsumen masih menghadapi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, termasuk pangan. Takaichi telah menyalurkan subsidi untuk membatasi biaya utilitas dan kini berencana memangkas pajak penjualan makanan menjadi 1% selama dua tahun mulai April.
Data PDB tersebut agak bertolak belakang dengan sejumlah rilis data perusahaan yang secara umum positif selama periode tersebut. Survei Tankan BOJ menunjukkan sentimen bisnis di kalangan produsen besar meningkat pada Juni ke level tertinggi sejak 2018, sementara indikator perusahaan non-manufaktur besar bertahan di level terkuat sejak 1991.
Produksi industri meningkat setiap bulan sejak akhir kuartal I, dengan proyeksi menunjukkan kenaikan lebih lanjut pada Juli dan Agustus. Sementara itu, indeks PMI manufaktur tetap berada di level tinggi setelah naik pada April ke posisi tertinggi dalam 12 tahun.
Penurunan investasi perusahaan terjadi meski kinerja laba korporasi relatif kuat. Laba berjalan perusahaan Jepang meningkat lebih besar dari perkiraan secara tahunan dalam tiga bulan hingga Maret.
Meski demikian, perusahaan menghadapi kenaikan biaya operasional. Harga barang korporasi terus meningkat pada laju tinggi pada Juli, naik 7,2% dibandingkan setahun sebelumnya, sehingga menekan perusahaan untuk menaikkan harga bagi konsumen.
Pemerintah berupaya mengatasi ketatnya pasokan energi dengan mendiversifikasi sumber energi ketika Selat Hormuz masih secara efektif tertutup. Data perdagangan Juni menunjukkan AS menyumbang hampir sepertiga impor minyak Jepang, dibandingkan hanya 7% pada Februari.
Ke depan, perekonomian Jepang menghadapi kombinasi faktor pendukung dan tekanan. Meski demikian, kenaikan upah yang solid hasil negosiasi kenaikan gaji tahunan serta subsidi pemerintah diperkirakan akan membantu menopang belanja rumah tangga, menurut para ekonom.
“Konsumsi lebih lemah dari perkiraan, tetapi kompensasi karyawan meningkat dari kuartal sebelumnya dan upah riil terus tumbuh dibandingkan setahun sebelumnya. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, saya tidak berpikir tren pemulihan ekonomi yang mendasar telah terhenti,” kata Kanda.
(bbn)





























