Logo Bloomberg Technoz

Aditya membandingkan strategi ini dengan kebijakan yang pernah diterapkan oleh China.

Menurutnya, Pemerintah China telah sukses membangun kekuatan rantai industri baterai lithium ferro phosphate (LFP) hingga mencapai skala ekonomi berkat dukungan insentif yang tepat sasaran.

“Sedikit tambahan catatan dari saya, hal yang sama juga diterapkan di China dalam rangka penguatan rantai industri baterai LFP hingga tercapai economies of scale,” kata Aditya.

Meski demikian, IBC mengingatkan insentif hanyalah pemicu awal.

Agar industri baterai dalam negeri memiliki daya saing jangka panjang, lanjut Aditya, pemberian insentif harus diimbangi dengan riset dan penguatan teknologi berkelanjutan oleh para pelaku industri.

“[Hal] yang perlu diperhatikan adalah pemberian insentif merupakan stimulus, sehingga penerapan insentif juga perlu diiringi dengan inovasi yang masif untuk membuat produk lebih kompetitif dan future-ready,” ujarnya.

Saat ini, IBC tengah melakukan berbagai persiapan strategis menyambut peresmian proyek PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) dengan memfokuskan pengembangan pada penguatan ekosistem EV terintegrasi dari hulu ke hilir.

Persiapan tersebut mencakup pembangunan fasilitas manufaktur baterai berteknologi tinggi, peningkatan kapasitas rantai pasok bahan baku seperti nikel dan prekursor, hingga penyelarasan standar teknologi baterai agar sesuai dengan standar global yang diusung dalam konsorsium.

“IBC juga memperkuat kolaborasi lintas sektor dan kemitraan dengan para pemain utama industri otomotif serta energi untuk memastikan kesiapan infrastruktur pengisian daya dan fasilitas daur ulang baterai,” kata Aditya. 

Dari sisi kapasitas produksi, pada tahap awal operasional IBC menargetkan produksi sel baterai sebesar 10 sampai 15 gigawatt hour (GWh) per tahun, yang secara bertahap akan ditingkatkan hingga mencapai kapasitas penuh sekitar 30 GWh per tahun seiring tumbuhnya permintaan pasar domestik dan global. 

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong program Motor Listrik Nasional besutan Presiden RI Prabowo Subianto menggunakan baterai nikel yang diproduksi IBC melalui CATL.

"Ke depan itu motornya itu kan baterainya itu kan ke depan kita akan lebih mendorong, karena kita sudah mempunyai pabrik baterai dari nikel, kita akan lebih mendorong ke nikel," ungkap Bahli kepada awak media di Istana Negara, Jumat (31/7/2026).

Meski begitu, Bahlil menjelaskan nilai keekonomian nikel masih perlu dilihat lagi. Pihaknya juga mesti melakukan penyesuaian terhadap komponen nikel agar harga lebih ekonomis.

"Tapi kita lihat tingkat keekonomiannya, tetapi kami yakin bahwa tingkat keekonomian nikel Indonesia itu akan jauh lebih kompetitif. Kita akan melakukan beberapa langkah-langkah penyesuaian terhadap komponen-komponen dalam harga supaya lebih ekonomis. Ya, begitu ya," bebernya.

Di sisi lain, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sempat mengatakan Presiden Prabowo Subianto akan segera memimpin peluncuran motor listrik nasional hasil karya anak bangsa dalam waktu dekat.

Meski demikian, politikus Partai Gerindra itu tidak membeberkan waktu pasti peluncuran tersebut. 

“Berkenaan dengan motor listrik nasional nanti pada waktunya akan kami sampaikan dalam waktu dekat mungkin akan ada peluncuran ya. [Produsennya] tunggu tanggal mainnya, sudah ada tetapi ada waktunya disampaikan,” ujar Prasetyo kepada awak media, Selasa (21/7/2026).

Menurut Prasetyo, proyek motor listrik nasional akan memberikan dua makna bagi Indonesia.

Pertama, menunjukkan kemampuan Indonesia dalam memproduksi motor listrik. Kedua, bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi bahan bakar minyak (BBM) berbasis fosil. 

(smr/wdh)

No more pages