Harga minyak mentah AS stabil pada awal perdagangan Rabu di sekitar US$83 per barel, setelah Iran kembali menegaskan rencananya untuk tetap menutup Selat Hormuz sampai tuntutannya dipenuhi.
Sebelumnya, harga minyak sempat turun setelah Pakistan mengatakan bahwa AS dan Iran “sudah mendekati suatu bentuk kesepakatan.”
Harga Treasury AS sedikit menguat menjelang laporan yang diperkirakan menunjukkan perlambatan kenaikan harga konsumen.
Nada perdagangan yang hati-hati tersebut menunjukkan bagaimana investor sedang menimbang risiko geopolitik yang terus berlanjut dengan ketidakpastian mengenai langkah Federal Reserve berikutnya.
Harapan akan terobosan dalam perundingan telah memudar setelah optimisme mengenai kesepakatan yang segera tercapai sempat mendorong aset-aset berisiko menguat pekan lalu.
Sementara itu, laporan inflasi yang dirilis pada Rabu dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed.
“Saham-saham mencerminkan sebagian kekecewaan atas kurangnya kemajuan nyata di kawasan Teluk Persia setelah sebelumnya bereaksi secara berlebihan terhadap janji bahwa kesepakatan akan segera tercapai pada pekan lalu,” kata Steve Sosnick, Chief Strategist di Interactive Brokers LLC.
Indeks harga konsumen (CPI) AS yang dirilis pada Rabu diperkirakan menunjukkan bahwa tekanan yang berkaitan dengan energi telah mereda setelah meningkat dalam beberapa bulan segera setelah perang dimulai.
Angka CPI yang lebih rendah dari perkiraan dapat membantu mengurangi sebagian kekhawatiran di Federal Reserve, setelah tiga pejabat pada Juli menyatakan perbedaan pendapat dan mendukung kenaikan suku bunga.
“Saya memperkirakan laporan CPI akan melanjutkan tren penurunannya, yang selanjutnya akan memperkuat alasan bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tetap, bukan menaikkannya, bahkan setelah laporan ketenagakerjaan yang lemah pada Jumat lalu,” kata Dennis Follmer dari Montis Financial.
Data AS lainnya yang dirilis pada Selasa memberikan gambaran ekonomi yang beragam.
Penjualan rumah yang sudah ada turun ke level terendah dalam tiga bulan pada Juli karena harga rumah dan suku bunga hipotek yang tinggi terus membebani pasar perumahan.
Sementara itu, optimisme usaha kecil meningkat ke level tertinggi dalam hampir satu tahun, seiring perusahaan meningkatkan rencana perekrutan dan tekanan inflasi mereda.
Di Asia, investor juga akan mengamati yen, yang mendekati level penting terhadap dolar AS yang dapat kembali memicu spekulasi bahwa otoritas Jepang akan melakukan intervensi untuk menopang mata uang tersebut.
Di tempat lain, harga emas mundur dari level tertinggi dalam dua bulan karena para trader mempertimbangkan prospek kesepakatan AS-Iran, sementara harga minyak yang tetap tinggi terus menunjukkan ketidakpastian mengenai arah perkembangan konflik.
“Kami melihat harga minyak mentah sebagai penggerak narasi perang, dengan pergerakan harga kemungkinan akan menentukan laju eskalasi maupun de-eskalasi,” kata Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman & Co.
(bbn)






























