Baterai NMC Kalah Ekonomis 58% dari LFP, Nikel Temui Dilema Pasar
Sabrina Mulia Rhamadanty
12 August 2026 12:20

Bloomberg Technoz, Jakarta – Ekonom sekaligus pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti mengatakan harga baterai electric vehicle (EV) berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) lebih mahal 58% dibandingkan dengan harga baterai lithium ferro phosphate (LFP).
“NMC harganya memang lebih mahal. Kalau dihitung secara struktural biaya bisa sampai US$128/kWh, dibandingkan dengan LFP US$81/kWh, atau sekitar 58% lebih mahal per kWh,” ungkap Yayan saat dihubungi pada Rabu (12/8/2026).
Yayan menjelaskan perbedaan harga tersebut berimplikasi langsung pada harga jual kendaraan listrik di tingkat konsumen.
Dia mencontohkan pada paket baterai mobil listrik berkapasitas 60 kilowatt-hour (kWh)—ukuran baterai mobil EV yang saat ini paling umum digunakan pasar — terdapat selisih biaya sebesar US$47/kWh atau setara dengan US$2.800 (sekitar Rp46,2 juta dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS) per unit kendaraan.
“Itulah besaran selisih yang harus dipertimbangkan oleh konsumen, jika mau pilih kendaraan atau dalam hal ini mobil dengan baterai berbasis nikel,” ungkapnya.































