Logo Bloomberg Technoz

Sebagian besar sekuens tersebut berasal dari kawasan Pasifik Barat. Dari total 457 sekuens, sebanyak 438 atau sekitar 95,8 persen dilaporkan dari kawasan tersebut.

Singapura menjadi negara dengan kontribusi terbesar. Negara tersebut menyumbang 388 sekuens atau sekitar 84,9 persen dari keseluruhan sekuens PQ.16.1.1 yang tercatat secara global.

Mutasi PQ.16.1.1 Jadi Perhatian

PQ.16.1.1 memiliki sejumlah mutasi tambahan apabila dibandingkan dengan sublineage induknya, NB.1.8.1. Perubahan tersebut ditemukan pada protein spike yang berperan penting dalam proses virus memasuki sel manusia.

Mutasi tambahan pada protein spike yang tercatat meliputi D253G, N417T, D420N, dan I478T. Selain itu, terdapat perubahan pada bagian Nucleocapsid berupa T135I serta mutasi ORF8 G8E.

Meski memiliki sejumlah perubahan tersebut, data awal belum menunjukkan bahwa PQ.16.1.1 memiliki kemampuan berikatan dengan reseptor ACE2 manusia yang lebih tinggi daripada NB.1.8.1.

Sebaliknya, kemampuan PQ.16.1.1 untuk berikatan dengan ACE2 dilaporkan lebih rendah dibandingkan NB.1.8.1. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan penyebaran varian tersebut kemungkinan memiliki faktor lain.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah perubahan sensitivitas terhadap antibodi tertentu. PQ.16.1.1 menunjukkan penurunan sensitivitas terhadap beberapa antibodi monoklonal yang menargetkan bagian tertentu dari protein spike.

Namun, respons antibodi secara keseluruhan tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu besar pada kelompok tertentu. Pada sampel plasma dari orang yang sebelumnya terpapar Omicron, respons antibodi terhadap PQ.16.1.1 dan NB.1.8.1 secara umum masih serupa.

Kondisi berbeda terlihat pada individu yang sebelumnya mendapatkan vaksin berbasis galur Wuhan-Hu-1. Kadar antibodi terhadap PQ.16.1.1 pada kelompok tersebut tercatat sedikit lebih rendah dibandingkan kadar antibodi terhadap NB.1.8.1.

Temuan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa WHO terus memantau perkembangan sublineage ini. Peningkatan penyebaran tidak selalu berarti suatu varian memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk berikatan dengan reseptor ACE2.

Kemampuan virus menghindari respons dari kelompok antibodi tertentu juga dapat berperan dalam perubahan pola penyebaran. Namun, data yang tersedia masih terus dievaluasi untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.

Proporsi Varian Meningkat Cepat di Singapura

Data sekuensing menunjukkan peningkatan proporsi PQ.16.1.1 di antara sekuens COVID-19 yang tersedia. Secara global, proporsinya naik dari 2,7 persen pada minggu epidemiologi ke-18 menjadi 29,6 persen pada minggu ke-25.

Kenaikan juga terlihat lebih jelas di kawasan Pasifik Barat. Proporsi PQ.16.1.1 meningkat dari 5,4 persen menjadi 39,3 persen dalam periode yang sama.

Singapura menjadi salah satu wilayah dengan peningkatan paling menonjol. Proporsi PQ.16.1.1 di negara tersebut naik dari 12,6 persen pada minggu epidemiologi ke-18 menjadi 55,1 persen pada minggu ke-25.

Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh sekuens yang tersedia pada periode tersebut merupakan PQ.16.1.1. Meski demikian, proporsi berdasarkan data sekuensing tidak secara otomatis menggambarkan jumlah kasus keseluruhan di suatu negara.

Peningkatan juga tercatat di Hong Kong. Proporsi PQ.16.1.1 meningkat dari 20 persen menjadi 66,7 persen pada periode yang sama.

Namun, WHO memberikan catatan mengenai data Hong Kong pada minggu epidemiologi ke-25. Perkiraan tersebut hanya didasarkan pada empat dari enam sekuens yang dilaporkan pada pekan tersebut sehingga perlu dibaca dengan mempertimbangkan jumlah sampel yang terbatas.

Selain data sekuensing, perkembangan hasil pemeriksaan SARS-CoV-2 di Singapura juga menjadi bagian dari pemantauan. Tingkat hasil positif dari sistem pemantauan meningkat cukup cepat pada pertengahan periode tersebut.

Angka positif tercatat naik dari 6,5 persen pada minggu epidemiologi ke-16 dan kemudian mencapai puncak 19,8 persen pada minggu ke-19. Tingkat positif tersebut masih berada pada level tinggi hingga minggu ke-22 sebelum mulai menurun sampai minggu ke-25.

Pola Kenaikan Kasus Masih Dipantau

WHO menyebut pola peningkatan tersebut memiliki kemiripan dengan pola musiman yang juga terlihat pada 2024 dan 2025. Artinya, kenaikan aktivitas COVID-19 pada periode tersebut tidak sepenuhnya merupakan fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun, terdapat perbedaan pada pola 2026 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2026, periode peningkatan kasus positif berlangsung lebih singkat dibandingkan 2025.

Penurunan setelah mencapai puncak juga berlangsung lebih cepat. Pola tersebut menjadi bagian dari data yang terus diperhatikan untuk memahami dinamika penyebaran PQ.16.1.1.

Meski terjadi peningkatan proporsi varian dan hasil positif di sejumlah wilayah, WHO belum menerima laporan kasus maupun kematian yang dikaitkan dengan PQ.16.1.1 selama periode pemantauan tersebut.

Hal ini menjadi poin penting dalam membaca perkembangan varian baru tersebut. Status VUM berarti WHO sedang melakukan pemantauan dan evaluasi, bukan penetapan bahwa varian tersebut telah terbukti lebih berbahaya dibandingkan varian sebelumnya.

Sampai saat ini, data yang tersedia masih berfokus pada karakteristik virus, perubahan genetik, pola penyebaran, serta respons terhadap antibodi. Informasi tersebut dapat berkembang seiring bertambahnya sampel dan laporan dari berbagai negara.

Kondisi di Singapura menjadi perhatian khusus karena negara tersebut menyumbang sebagian besar sekuens PQ.16.1.1 yang tersedia secara global. Sebagai negara yang berada dekat dengan Indonesia dan memiliki mobilitas internasional tinggi, perkembangan epidemiologi di Singapura juga relevan untuk terus diperhatikan.

Meski demikian, keberadaan PQ.16.1.1 di negara tetangga tidak berarti varian tersebut secara otomatis telah menyebar luas di Indonesia. Diperlukan data sekuensing dan pemantauan epidemiologi di Indonesia untuk mengetahui situasi sebenarnya.

Masyarakat tetap dapat mengikuti informasi mengenai perkembangan COVID-19 melalui laporan otoritas kesehatan dan WHO. Pemantauan terhadap varian baru diperlukan agar perubahan karakteristik virus dapat diketahui sedini mungkin.

Untuk saat ini, PQ.16.1.1 masih berada dalam kategori variant under monitoring. WHO terus mengevaluasi data yang tersedia untuk menentukan apakah terdapat perubahan signifikan pada tingkat penyebaran, tingkat keparahan penyakit, maupun efektivitas langkah pencegahan dan penanganan yang ada.

(seo)

No more pages