Kendaraan atau peralatan bermesin rendah—seperti sepeda motor, mobil spesifikasi dasar, perahu nelayan, dan traktor pertanian — dapat memanfaatkannya sebagai bahan bakar alternatif.
"Kualitasnya sudah memadai meskipun belum sempurna. Namun, bahan bakar ini tetap bermanfaat dan dapat digunakan oleh motor, mobil spesifikasi rendah, perahu nelayan, serta traktor. Kendaraan-kendaraan ini tidak mengutamakan kenyamanan tinggi, yang terpenting dapat beroperasi," kata Hadi.
Dari sisi teknis, minyak hasil olahan limbah plastik memiliki nilai massa jenis dan nilai kalor yang mendekati bensin RON 88 hingga 90, serta mampu menghasilkan daya dan torsi mesin yang stabil.
Pada pengujian tertentu, pencampuran minyak plastik dalam kadar tertentu bahkan dapat meningkatkan efisiensi termal mesin.
Kendati begitu, angka setana (cetane number) pada varian solar hasil pirolisis umumnya masih lebih rendah daripada solar fosil komersial.
"Untuk itu, diperlukan proses pemurnian lanjutan atau penambahan aditif agar kinerjanya lebih optimal," tambahnya.
Aspek Lingkungan
Ditinjau dari aspek lingkungan, pengolahan sampah plastik menjadi BBM diakui Hadi menawarkan solusi efektif untuk mengatasi krisis limbah padat yang sulit terurai di tempat pembuangan akhir (TPA), sekaligus mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.
Dalam rantai daur ulang karbon, mengonversi limbah menjadi energi jauh lebih ramah lingkungan daripada membiarkannya mencemari ekosistem atau membakarnya secara terbuka.
"Meskipun emisi gas buang dari pembakarannya tetap menghasilkan karbon monoksida [CO] dan hidrokarbon [HC], tingkat emisinya dapat ditekan jika BBM sampah disuling dengan standar yang tepat," jelas Hadi.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah merencanakan pengembangan teknologi pengelolaan sampah plastik menjadi BBM setara solar atau diesel.
Dalam pemaparan peneliti BRIN di hadapan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada Kamis (6/8/2026), tercatat bahwa sekitar 70% sampah di Indonesia merupakan sampah plastik bernilai rendah (low value). Sampah-sampah inilah yang berpotensi diolah menjadi BBM bagi nelayan.
Peneliti BRIN mengklaim bahwa sampel solar dari olahan sampah plastik tersebut telah diuji di Balai Besar Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas). Hasil pengujian menunjukkan angka setana (cetane number) berada pada kisaran 48 hingga 51, atau setara dengan spesifikasi Pertamina Dex.
Teknologi yang digunakan dinamakan Mesin Pirolisis, yang berfungsi mengubah sampah plastik bernilai rendah menjadi BBM setara diesel. Mesin ini dirancang dalam beberapa varian kapasitas dengan rasio pengolahan sampah terhadap BBM sebesar 1:1.
Kapasitas olah sampah sebesar 5 kg diklaim dapat menghasilkan 5 liter solar, 50 kg menghasilkan 50 liter, 100 kg menghasilkan 100 liter, 200 kg menghasilkan 200 liter, hingga 500 kg menghasilkan 500 liter solar secara otomatis.
Mengenai harga, BRIN memaparkan bahwa mesin pengolah sampah plastik menjadi solar tersebut dibanderol seharga Rp150 juta untuk kapasitas pengolahan 50 kg sampah, serta Rp50 juta untuk unit pengolahan skala kecil.
"Untuk kapasitas 50 kilogram harganya Rp150 juta. Di desa nelayan, saat ini sudah terpasang sekitar 80 unit, Pak Presiden," terang peneliti BRIN kepada Presiden Prabowo.
(smr/wdh)



























