Logo Bloomberg Technoz

Untuk diketahui, melalui teknologi ini, sampah plastik jenis polimer hidrokarbon seperti polietilena (PE) dan polipropilena (PP)—yang lazim ditemukan pada kantong belanja, botol kemasan, hingga wadah makanan—dapat didaur ulang secara termokimia menjadi produk energi bernilai ekonomi tinggi.

Adapun, mekanisme inti yang dilakukan melalui teknologi pirolisis adalah proses termokimia dengan memanaskan sampah plastik pada suhu tinggi sekitar 300 hingga 500 derajat celcius di dalam ruang tertutup tanpa oksigen (anaerob).

Tanpa hadirnya oksigen, plastik tidak akan terbakar menjadi abu, melainkan rantai panjang polimernya akan terputus dan terurai (termolisis) menjadi molekul hidrokarbon yang lebih pendek berbentuk uap gas.

Uap hidrokarbon tersebut kemudian dialirkan menuju sistem kondensor untuk didinginkan, sehingga mengembun dan mengembun kembali menjadi cairan minyak pirolisis.

Cairan ini lalu melalui tahap distilasi dan pemurnian lebih lanjut hingga menghasilkan fraksi bahan bakar yang setara dengan solar atau diesel cair, sedangkan sisa gas yang tidak terkondensasi dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi pemanas reaktor.

Perkembangan teknologi pirolisis di Indonesia sendiri kian matang; dari yang semula berfokus pada skala laboratorium dan alat percontohan (pilot project), kini BRIN dan pemangku kepentingan industri terus mendorong otomatisasi serta pemanfaatan katalis untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas BBM yang dihasilkan.

Target utama dari proyek pengolahan limbah ini mencakup aspek lingkungan sekaligus ketahanan energi nasional. 

Secara lingkungan, proyek ini ditargetkan mampu mereduksi volume limbah plastik yang menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA) maupun yang mencemari wilayah perairan dan lautan.

Mengutip penjelasan paparan peneliti BRIN, dari segi pendanaan dan investasi disebutkan bahwa 70% sampah Indonesia merupakan sampah plastik bernilai rendah atau low value.

Peneliti BRIN mengklaim sampel solar dari olahan sampah plastik tersebut telah diuji di Balai Besar Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) dalam format solar dengan angka cetana atau cetane number (CN) 48 dan 51 atau setara Pertamina Dex.

“Berapa harganya per unit?” tanya Presiden Prabowo Subianto kepada peneliti BRIN yang tidak disebutkan namanya tersebut di Istana Negara, Kamis (6/8/2026).

Dalam penjelasannya, peneliti BRIN memaparkan harga teknologi pengolah sampah plastik menjadi solar tersebut mencapai Rp150 juta untuk mengolah 50 kilogram (kg) sampah, serta Rp50 juta untuk pengolahan skala kecil.

“Iya, [Rp150 juta] untuk 50 kilo. Di desa nelayan ini sudah dipasang sekitar 80 unit, Pak Presiden,” terang peneliti BRIN.

Skema pendanaan proyek ini terus didorong melalui kolaborasi riset berbasis kemitraan antara pemerintah, BRIN, pihak swasta, serta dukungan dana hibah inovasi hijau untuk percepatan komersialisasi di berbagai daerah.

Di sisi lain, dari sisi kapasitas olah sampah Rp5 kg diklaim BRIN dapat menghasilkan 5 liter solar, 50 kg menghasilkan 50 liter, 100 kg menghasilkan 100 liter, 200 kg menghasilkan 200 liter, dan 500 kg menghasilkan 500 liter secara otomatis.

Adapun, keberhasilan implementasi proyek ini di masa depan akan sangat bergantung pada sinergi antara hasil riset BRIN, regulasi pemerintah daerah, serta kesiapan investasi dari pihak swasta untuk memproduksi reaktor pirolisis dalam skala komersial yang lebih luas.

(smr/wdh)

No more pages