Sementara, saham-saham energi, dan saham kesehatan juga melemah dengan tertekan 0,68%, dan 0,41%.
Sementara Bursa Saham Asia lainnya justru solid menapaki jalur hijau. Kenaikan tertinggi dialami oleh KOSDAQ (Korea Selatan), menyusul NIKKEI 225 (Jepang), TW Weighted Index (Taiwan), Straits Time (Singapura), Hang Seng (Hong Kong), SETI (Thailand), Shanghai Composite (China), KOSPI (Korea Selatan), TOPIX (Jepang), Shenzhen Comp. (China), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), dan CSI 300 (China).
Pada sisi berseberangan, hanya ada SENSEX (India), KLCI (Malaysia), dan PSEI (Filipina) yang masih tergelincir di zona merah.
Bursa Saham Asia berhasil melaju sama baik dengan yang terjadi di Bursa Saham Amerika Serikat. Pada perdagangan sebelumnya, tiga indeks utama di Wall Street sepadu di zona penguatan.
Nasdaq Composite, S&P 500, dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) finish di zona hijau dengan menguat 1,3%, 0,62%, dan 0,28% masing–masing.
Sentimen positif pada perdagangan hari ini utamanya datang dari global. Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, kesepakatan dengan Oman untuk membentuk jalur pelayaran melalui Selat Hormuz sudah “sangat dekat”.
Namun memang, Teheran kembali menegaskan pada Senin, pembukaan kembali Selat Hormuz akan mengharuskan Amerika Serikat (AS) menghentikan blokade terhadap pelayaran Iran serta memberikan kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan.
Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap yang lebih sabar. Dalam dengar pendapat dengan Axios pada Minggu (9/10/2026), Trump mengatakan AS yang saat ini “low-keying it”, atau mengambil pendekatan yang lebih tenang dan tidak terlalu agresif.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah selama beberapa pekan Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, namun kemudian berulang kali mengurungkan niat tersebut.
Adapun pasar global sejauh ini terhindar dari kelangkaan pasokan yang ekstrem berkat sejumlah faktor, termasuk lemahnya permintaan dari China dan pelepasan cadangan minyak darurat.
Ulasan pasar saham Indonesia, melemahnya IHSG tersengat sentimen yang datang dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang terus mengalami penurunan dalam tiga bulan beruntun pada tahun 2026 ini. IKK sudah resmi turun selama Mei, Juni, dan Juli.
Pada Senin pagi, hasil Survei Konsumen periode Juli yang digelar Bank Indonesia (BI) menghasilkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) hanya mampu berada di posisi 116,8. Keyakinan konsumen melemah dari sebelumnya 117,8 pada Juni. Bahkan IKK pada Juli menjadi yang terendah sejak September tahun lalu atau dalam 10 bulan.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga melemah biarpun masih berada di level optimis dengan masing–masing sebesar 107,9 dan 125,7, lebih rendah dibanding dengan indeks bulan sebelumnya yang masing–masing sebesar 109,2 dan 126,4.
(fad/wep)





























