Iran dan Oman gagal mencapai kesepakatan final untuk membuka kembali Selat Hormuz pada akhir pekan setelah Teheran kembali mengajukan daftar panjang tuntutan kepada Washington. Hal ini mengindikasikan bahwa potensi pemulihan pasokan minyak dan gas dalam waktu dekat masih terbatas. Data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pekan ini juga menjadi perhatian setelah laporan ketenagakerjaan yang lemah pada Jumat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak perlu segera menaikkan suku bunga.
“Laporan nonfarm payrolls yang jauh lebih lemah dari perkiraan menggambarkan kondisi suram pasar tenaga kerja AS,” tulis Kyle Rodda, analis senior di Capital.com, dalam catatan kepada klien. “Namun, pelaku pasar memperlakukan data tersebut sebagai situasi ‘berita buruk adalah berita baik’.”
Pengusaha secara tak terduga memangkas jumlah pekerja pada Juli, sementara pertumbuhan tenaga kerja dalam dua bulan sebelumnya direvisi turun. Hal itu menunjukkan pasar tenaga kerja lebih lemah dari perkiraan sebelumnya. Berdasarkan data swap yang dihimpun Bloomberg, trader memangkas peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September menjadi sekitar 43%, dari 64% sepekan sebelumnya.
Mata uang Asia juga berpotensi menguat setelah imbal hasil obligasi AS turun dan dolar merosot ke level terendah dalam dua bulan. Harga Treasury menguat pada Jumat, dengan imbal hasil obligasi tenor dua tahun—yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed—turun hingga 9 basis poin setelah laporan ketenagakerjaan dirilis, sebelum berakhir sekitar 5 basis poin lebih rendah di 4,19%. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dalam sepekan sejak Mei.
“Ada latar belakang positif bagi Asia-Pasifik dengan dolar AS yang lebih lemah, harga minyak mentah yang lebih rendah, dan pemulihan luas sentimen terhadap ekuitas,” tulis Wee Khoon Chong, ahli strategi di BNY Hong Kong, dalam catatan kepada klien.
Kembali ke perkembangan geopolitik, Donald Trump pada Minggu mengisyaratkan kesabaran dalam wawancara dengan Axios. Dia mengatakan AS dapat menunggu hingga tekanan ekonomi terhadap Teheran membuat Iran melunak. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump selama berminggu-minggu mengancam akan melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran, tetapi kemudian mundur dengan alasan ingin memberi kesempatan bagi perundingan.
Investor tidak bisa terlalu pesimistis mengingat Trump kemungkinan kembali mundur dari ancamannya, terutama setelah tingkat persetujuannya turun ke level terendah baru, tulis My Bui, ekonom di AMP Ltd., dalam catatan kepada klien.
“Jadi untuk saat ini, situasinya masih berjalan seperti biasa, dengan saham tetap ditopang oleh fundamental yang solid, pertumbuhan ekonomi yang kuat, dan peningkatan produktivitas,” tambahnya.
(bbn)






























