Logo Bloomberg Technoz

Stella mengatakan pendidikan vokasi memiliki peran utama dalam merespons kebutuhan industri secara cepat melalui penyediaan talenta yang terampil dan berkualitas.

Menurutnya, ketersediaan tenaga kerja terampil menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan industri dan masuknya investasi.

“Kalau tidak ada suplai tenaga kerja terampil, industri akan mati dan investor enggan berinvestasi. Perguruan tinggi vokasi paling utama perannya untuk merespons pasar kerja,” ungkapnya.

Belajar dari China

Stella mencontohkan pengembangan pendidikan vokasi di China, salah satunya melalui Shenzhen Polytechnic University yang memiliki kerja sama erat dengan industri lokal yang telah mendunia, seperti Huawei dan BYD.

Menurut Stella, kawasan Greater Bay Area yang mencakup Shenzhen, Hong Kong, dan Guangzhou memiliki pendapatan mencapai US$2,15 triliun. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan output ekonomi Indonesia yang berada di kisaran US$1,55 triliun.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan besarnya kontribusi pendidikan vokasi dalam menyediakan tenaga kerja terampil bagi industri, khususnya di kawasan Shenzhen, Guangzhou, dan Hong Kong.

“Inilah mengapa saya sebut vokasi kunci masa depan Indonesia,” tegasnya.

Keunggulan pendidikan vokasi, lanjut Stella, juga terlihat di negara-negara Eropa seperti Swiss. Ia menyebut lulusan sarjana terapan di Swiss dapat memperoleh gaji hingga 102.114 Swiss Franc atau setara sekitar Rp2 miliar.

Stella juga mencontohkan Korea Selatan yang terus memperkuat pendidikan vokasi karena menyadari pentingnya tenaga kerja terampil bagi pertumbuhan ekonomi.

“Karena mereka tahu perekonomian mereka tidak akan bisa maju tanpa vokasinya yang kuat,” terangnya.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berkomitmen memperkuat pendidikan vokasi melalui tiga pilar utama, yakni industry match curriculum, industry match instructors, dan industry match infrastructure.

Salah satu bentuk kerja sama yang telah berjalan dilakukan dengan LiuGong, perusahaan produsen alat berat multinasional asal China. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) memperoleh kesempatan mendapatkan beasiswa untuk belajar dan menjalani program magang selama satu tahun di LiuGong, baik di China maupun Indonesia.

(dec/naw)

No more pages