Anto hanya menegaskan jika kabar tersebut sudah masuk tahap formal, maka perseroan bakal mengumumkannya kepada publik.
Anto juga sempat menyinggung terdapat asas kerahasiaan yang diteken dengan calon mitra perseroan di smelter Blok Tanamalia.
“Nanti gini, kalau itu memang sudah formal, pasti kan di-announce kan. Ini kan ada confidentiality segala macam kan, jadi saya enggak bisa ngomong banyak sih,” kata Anto.
Lebih lanjut, Bernadus memastikan proses eksplorasi tambang di Blok Tanamalia masih dilakukan oleh perseroan.
Dia memberikan sinyal tambang Tanamalia memiliki cadangan bijih nikel yang melimpah, tetapi masih belum dapat mengungkapkan besarannya.
“Jadi kita fokus dahulu untuk bisa mengeksplorasi, untuk men-justify pengembangan tambang. Saya enggak ingat angka detailnya-lah ya. [Hal] yang jelas, cadangannya pasti baguslah,” ucap Bernadus.
Dalam situs resmi INCO dijelaskan bahwa tambang tanamalia berlandaskan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) serta izin persetujuan penggunaan kawasan hutan (PPKH) untuk kegiatan eksplorasi di kawasan hutan.
Tambang Tanamalia berlokasi di Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas seluas 13.556 hektare (ha) di Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Eksplorasi tambang tersebut sudah dilakukan bertahap sejak 1970 dan memasuki eksplorasi terperinci pada 2025–2026, kemudian proses konstruksi ditarget mulai 2027–2028.
Dengan begitu, perseroan menargetkan penambangan di tambang tersebut paling cepat pada 2030.
Di sisi lain, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Selatan menyatakan sumber penghasilan masyarakat Loeha Raya dari perkebunan merica berpotensi tergerus, gegara tambang Tanamalia.
“Aktivitas eksplorasi di Tanamalia mulai masif dilakukan oleh perusahaan sejak tahun 2022. Aktivitas pertambangan jelas sangat berpotensi menimbulkan dampak buruk terhadap ekonomi, lingkungan hidup, sosial komunitas petani merica, perempuan hingga anak-anak,” tulis Walhi Sulsel dalam risetnya.
Walhi Sulsel menyatakan luas konsesi Vale di Blok Tanamalia termasuk di kawasan hutan, Danau Lantua, dan perkebunan merica masyarakat Loeha Raya.
“Jika dipresentasikan dari total luasan hutan hujan eksisting saat ini dengan luas 25.260,43 ha, maka 66,45 % dari luasan kawasan hutan hujan di Tanamalia merupakan wilayah konsesi pertambangan nikel PT Vale Indonesia dan hanya menyisakan 33,55 % kawasan hutan hujan tersisa,” ungkap Walhi Sulsel.
Vale Indonesia tengah menjajaki kerja sama pengembangan tambang baru Tanamalia di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan, dengan menggandeng mitra perusahaan otomotif (automaker) asal Eropa.
Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia Budiawansyah menyatakan proyek tersebut rencananya bakal terintegrasi dengan smelter hidrometalurgi berbasis HPAL yang membutuhkan bijih nikel limonit.
“Ini masa depan dan sedang mulai dirintis. Itu kerja sama di Blok Tanamalia. Ini sangat istimewa karena mitra kita, salah satunya adalah pabrikan kendaraan terkemuka dari Eropa,” kata Budiawansyah dalam Grand Seminar Hipmi, Kamis (6/8/2026).
Dalam bahan paparan yang ditayangkan, pengembangan tambang tersebut sedang dalam tahap studi front end loading (FEL) tahap II yang melingkupi; penyusunan feasibility study (FS), keekonomian, teknis pengembangan, operasional, legal, serta aspek environmental, social, and governance (ESG).
Sementara itu, proyek smelter HPAL-nya bakal dibangun bersama mitra dan saat ini sedang tahap pemilihan mitra.
Lebih lanjut, Blok Tanamalia merupakan bagian dari izin usaha pertambangan khusus (IUPK) Vale Indonesia yang meliputi subblok IUPK Loeha, Lemo-Lemo, dan Lingkona dengan luas 13.556 ha.
Blok Tanamalia juga berada di kawasan hutan Sorowako dengan izin eksplorasi lanjutan seluas 17.239 ha. Area Tanamalia mencakup desa Loeha dan sebagian kecil desa Rante Angin, Luwu Timur.
Dijelaskan bahwa jika kandungan nikel cukup memadai maka konstruksi bakal dilakukan mulai 2027—2028 dan penambangan dimulai paling cepat 2031.
Di sisi lain, pabrikan otomotif asal Jerman, VW, sebelumnya disebut-sebut sempat menyatakan minatnya bekerja sama dengan Vale Indonesia dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Associate Energy Analyst di Sekretariat Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Fitria Astuti Firman menyebut pemerintah sedang menyusun standar ESG nasional melalui gap analysist (analisis kesenjangan) antara regulasi domestik dengan standar internasional untuk mengakomodasi investor asing di sektor mineral kritis.
Dalam kaitan itu, dia menyebut VW tertarik untuk masuk ke proyek nikel Vale dengan syarat ESG yang ketat.
“Langkah ini krusial agar produk mineral Indonesia dapat diserap oleh rantai pasok global. Contoh sukses penerapan ini adalah kerja sama PT Vale dengan raksasa otomotif dunia seperti Ford dan Volkswagen, yang mewajibkan kepatuhan ESG berstandar global,” ungkapnya di agenda diskusi publik Indef, Rabu (17/6/2026).
(azr/ros)






























