Logo Bloomberg Technoz

Dalam kaitan itu, Eko menilai Indonesia mulai kehilangan daya saing di pasar global, terutama dari sisi kemampuan mendorong ekspor.

Sebagai perbandingan, pada kuartal II-2025 ekspor masih mampu tumbuh dua digit sebesar 10,67%, sementara impor meningkat sekitar 11%. Meski impor saat itu sedikit lebih tinggi, kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi hanya negatif 0,02%, sehingga belum menjadi beban yang signifikan.

"Kalau sektor eksternal ini bisa dijaga, pertumbuhan ekonomi kita sebenarnya bisa lebih tinggi," ucap Eko.

Dalam kesempatan tersebut, Eko mengingatkan agar pemerintah tidak lagi terlena dengan capaian surplus neraca perdagangan yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.

Menurut dia, kondisi tersebut mulai berubah dalam beberapa waktu terakhir lantaran surplus neraca perdagangan berbalik defisit pada Mei dan Juni 2026 setelah mengalami surplus 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

“Jadi kita enggak bisa lagi membanggakan-banggakan berapa puluh bulan mengalami surplus neraca perdagangan, dua bulan terakhir sudah defisit ya, mudah-mudahan kedepan kita dapat lagi,” jelas Eko.

Eko menegaskan, pelemahan kontribusi sektor eksternal menjadi sinyal bahwa pemerintah perlu memperkuat daya saing ekspor di tengah meningkatnya tantangan perdagangan global.

Tanpa perbaikan pada sektor tersebut, pertumbuhan ekonomi berisiko semakin bergantung pada konsumsi domestik dan belanja pemerintah sebagai motor utama perekonomian.

(roy)

TAG

No more pages

Artikel Terkait