Logo Bloomberg Technoz

Dimanfaatkan PLN

Fabby menuturkan daya listrik yang disimpan dalam BESS pada siang hari dapat disalurkan kembali oleh PLN saat beban puncak pada sore atau malam hari.

Langkah ini dapat menggantikan penggunaan pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) yang biaya operasionalnya mahal. Dengan demikian, pengoperasian BESS dapat menekan biaya produksi listrik secara signifikan.

Lebih lanjut, Fabby menekankan pentingnya perencanaan sistem ketenagalistrikan yang komprehensif agar investasi sektor swasta dapat memperkuat jaringan nasional tanpa membebani keuangan PLN.

“PLN dapat memfokuskan anggarannya pada pengembangan jaringan transmisi dan distribusi yang sangat vital bagi keberhasilan target 100 GW, sementara sektor pembangkit dan BESS dapat didukung oleh industri,” ungkapnya.

Meski industri baterai nasional mulai tumbuh, Fabby mencatat bahwa alokasi BESS dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN saat ini baru mencapai sekitar 4,6 GW.

“Jadi memang penetapan target dan regulasi yang jelas sangat diperlukan agar industri BESS dalam negeri dapat berkembang pesat,” ungkapnya.

Adapun, pengembangan dan produksi BESS di Indonesia saat ini digenjot melalui lokalisasi industri guna memenuhi ketatnya aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Di sektor manufaktur, raksasa baterai seperti Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) telah mengumumkan pembukaan pabrik baterai baru di Jawa Barat untuk memproduksi sistem BESS (seperti EnerX BESS) dengan kapasitas pasokan hingga 2,2 gigawatt-hour (GWh) guna mendukung megaproyek Vanda Solar & Battery (PLTS 2.000 MW dan BESS 4.400 MWh).

Selain pemain global, konsorsium BUMN seperti Indonesia Battery Corporation (IBC) berkolaborasi dengan grup PT PLN (Persero) untuk membangun ekosistem serta fasilitas BESS dengan mitra global asal China, Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL) yang merupakan anak usaha CATL, melalui  perusahaan patungan mereka bernama PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan Pemerintah Indonesia membidik pembangunan PLTS 100 GW dalam waktu dua tahun saja.

Target tersebut disampaikan Prabowo dalam peluncuran program mandatori biodiesel B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).

Dia pun menanyakan kesanggupan jajaran menteri Kabinet Merah Putih atas target yang dicanangkannya tersebut.

"Bagaimana nanti kalau kita akan bangun 100 GW tenaga surya tahun ini, PLN akan mulai dengan 17 GW tahun ini, 100 GW dalam 2 tahun bisa? Pak Rosan? Pak Menko?" tanya Prabowo kepada para menteri yang hadir.

Hal itu kemudian disanggupi oleh Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

"Siap, laksanakan," jawab Bahlil.

Prabowo lantas mengatakan bahwa para pakar yang pintar akan meragukan dan mengkritik target 100 GW PLTS dalam dua tahun tersebut lantaran terlalu ambisius.

"Aku tidak tanya laksankan, bisa enggak? Kita akan dihujat, pakar-pakar yang pintar akan bilang: mana mungkin. iya kan? Mana mungkin. Saya kasih tahu siap-siap kita akan dihujat pakar-pakar yang pintar-pintar itu," tuturnya.

Sebelumnya, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Jisman P Hutajulu menyebut pemerintah terus mematangkan target proyek PLTS 100 GW.

Jisman menambahkan, pada tahap pertama, pemerintah menargetkan proyek dibangun sebesar 17 GW. 

“Komitmen pemerintah menuju pemerataan energi terbarukan di tempat terpencil. Mulai dari pengembangan PLTS 100 GW. Pak Rizal [Direktur Manajemen Pembangkitan PLN] kita sudah sampaikan, tahap awal adalah 17 GW,” ungkap Jisman dalam agenda Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Jisman mengungkap bahwa dibandingkan dengan pembangkit lain, PLTS dinilai tidak memiliki teknologi yang terlalu kompleks atau rumit, sehingga target 17 GW tahap pertama dirasa bisa tercapai.

“Rasanya sih saya yakin, kami juga membuka peluang sebesar-besarnya pada pengusaha muda Indonesia untuk berinvestasi [dalam PLTS)]," katanya.

(smr/wdh)

No more pages