Fabby mengatakan total investasi tersebut dapat terkumpul jika Indonesia konsisten menjalankan proyek raksasa tersebut selama lima tahun mendatang.
Berdasarkan kalkulasi IESR, porsi investasi untuk sel dan modul surya diperkirakan menelan biaya US$50 miliar hingga US$70 miliar. Sementara itu, potensi investasi untuk BESS dapat mencapai US$130 miliar hingga US$150 miliar.
Menurut Fabby, target kapasitas 100 GW secara teknis dapat dicapai dalam waktu 3—5 tahun mendatang. Namun, syarat utamanya adalah pemerintah harus menyelesaikan berbagai tantangan dan hambatan di lapangan.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membidik Provinsi Bali sebagai lokasi pengerjaan master plan tahap pertama proyek PLTS berkapasitas 100 GW tahap pertama.
Bahlil menyampaikan saat ini kementeriannya sedang menyusun perencanaan matang dan menjadwalkan agenda peletakan batu pertama (groundbreaking) bersama Presiden Prabowo Subianto.
“Kita buat master plan dengan perencanaan. Mungkin kita akan buat di Bali. Saya lagi usahakan meminta jadwal Bapak Presiden untuk peresmian tahap pertama PLTS 100 gigawatt ini,” ujar Bahlil saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Senin (3/8/2026).
Adapun, mengenai status proyek PLTS 100 GW dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025—2034, Bahlil menegaskan seluruh prosedur dan regulasi perizinan berada di bawah kewenangan Kementerian ESDM.
Dia memastikan semua tahapan aturan akan dipenuhi sebelum pelaksanaan groundbreaking.
(wdh)





























